Laki-laki (Tidak) Bercerita

Berat nian jadi lelaki. Saat ingin cerita, ia tidak jarang direspon negatif. "Ah cengeng," begitu kurang lebih responnya.


Padahal sang lelaki hanya ingin bercerita. Bagaimanapun ia sering merasa lega setelah bercerita. Walaupun ia sadar, sebagian temannya sesama lelaki justru memilih memendam cerita dan kemudian merasakan tekanan batin yang tidak ringan.

Kejadian berikutnya sebagian temannya sesama lelaki memilih menyendiri sementara waktu. Ada lelaki yang merokok di kesendiriannya, ada memancing, ada keliling kota tanpa tujuan. Yang penting hilang tekanan batin. Hati jadi plong, meskipun sebentar, minimal jadi jeda.

Mundur jauh ke belakang, ditemukan suatu masa, saat itu lelaki harus berdiri mengurus keluarga. Ia berburu untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Di sisi lain, secara bersamaan, ia juga harus menjaga keluarga dari hewan liar dan buas.

Sosok lelaki perlu kuat fisiknya, juga mentalnya. Tidak boleh ia cengeng. Berdarah-darah sudah resiko bagi dirinya sebagai pemimpin yang mengurusi keluarga.

Masa kemudian maju. Ditemukanlah kehidupan manusia berperadaban lebih maju. Tidak lagi goa yang ditinggali, manusia sudah di tinggal bangunan-bangunan. Bahkan sebagian bangunan bukan untuk ditinggali, tapi pusat pengelolaan kehidupan masyarakat.

Saat itu sosok lelaki sudah mulai berkembang. Tidaklah lagi lelaki digambarkan sebagai pemilik kekuatan fisik. Kekuatan akal juga diposisikan sebagai unsur penting dari sosok lelaki.

Lelaki tidak lagi hanya berburu, tapi juga bertutur. Pengetahuan disampaikan olehnya. Begitu juga aspirasi dan ketetapan-ketetapan bersama juga disuarakan. 

Tibalah kehidupan manusia di sebuah masa bernama revolusi industri. Pabrik-pabrik dibangun. Lelaki, tidak hanya dewasa bahkan remaja, didorong masuk ke pabrik-pabrik. Lelaki dipekerjakan dengan ototnya. Hingga secara tidak sadar, gambaran lelaki terjebak lagi seputaran fisik.

Hingga kini sosok lelaki masih sulit keluar dari jeratan stereotip ini. Walaupun perguruan tinggi sudah bertumbuhan di mana-mana dan kaum terpelajar sudah semakin banyak, gambaran lelaki masih begitu-begitu saja. Ditambah fenomena maraknya gym, sosok lelaki semakin dikukuhkan berputar-putar di sekitaran fisiknya.

Di titik ini mari berhenti sejenak...

Seorang lelaki tampan dan kuat fisiknya menyampaikan sebuah sabda, sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang paling kepada keluargaku."

Beliau Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam menyampaikan idealitas lelaki dengan redaksi yang menyeluruh. Bahwa lelaki itu senantiasa berbuat baik kepada keluarga, lisan ataupun perbuatan. Pesan tersiratnya, lelaki itu harus sehat seluruhnya, fisik dan ruhaninya.

Dalam menggapai kesehatan yang menyeluruh tersebut, lelaki didorong rajin munajat dan juga olahraga. Lelaki juga didorong berteman secara positif, salah satunya lewat shalat jamaah. Semoga ketentraman senantiasa dirasakannya.

Baginda Rasulullah tidak mencegah lelaki berkata-kata. Bahkan beliau mendorong lelaki berkata-kata, asalkan baik. Jika tidak baik, hendaklah lisan ditahan. Beliau bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka berkatalah yang baik atau diam." (Terjemah hadits riwayat Bukhari Muslim)

Curhat antarlelaki tidak dilarang. Sebagaimana banyak diriwayatkan, terjadi saling curhat antarsahabat kala itu. Beliau-beliau saling menguatkan, agar iman terus menetap dalam hati.

Pesan dari perikehidupan mereka, salah satunya lelaki itu bercerita dan juga bekerja. Sehatlah semua. Tidak ada yang menderita. Kebahagiaan milik semuanya.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close