Ikhlas Sebagai Awal Berpikir Besar

Saat seseorang ikhlas, yang selalu ada dalam ingatannya hanya Allah ta'ala serta mewujudkan perintah-Nya. Di kehidupan pribadinya ia akan senantiasa mengatur seluruh aktivitasnya supaya aturan-Nya bisa dilakukan dengan baik. Perkara haram dan merusak dijauhi, sedangkan halal dikejar dan dinikmati secukupnya. 


Di kehidupan sosialnya seorang ikhlas juga akan mengatur aktivitas dan hubungannya dengan orang lain. Ia berharap bisa menjalankan ketaatan dengan baik di tengah masyarakat. Bahkan jika mungkin masyarakat sekitarnya sama-sama mengarah kepada Allah ta'ala. 

Orang yang ikhlas menyadari akan ada konflik dalam hubungan sosial, sekecil apapun. Oleh karena itu ia berusaha fleksibel. Sekiranya orang yang dihadapinya berwatak keras, ia berusaha lembut. Sebaliknya jika orang lain lembut, ia juga berusaha lembut dengan balutan ketegasan.

Tidak mudah untuk jadi orang yang fleksibel. Akan tetapi demi hubungan sosial yang mengarah pada ketaatan, seorang ikhlas akan berusaha sebaik-baiknya supaya fleksibel. Apabila diperlukan, ia siap menambah pengetahuan serta berlatih.

Tidak hanya dalam hal komunikasi, orang ikhlas juga berusaha fleksibel terkait hal fiqih. Perbedaan pendapat dibangun di atas ilmu dan toleransi. Kaidah masyhur dipegang erat olehnya, "Kita akan bekerja sama pada hal-hal yang disepakati dan bertoleransi pada hal-hal yang tidak disepakati."

Satu pertanyaan muncul: Bagaimana dengan orang yang masih belum taat kepada Allah ta'ala?

Sama, ia fleksibel dengan tetap memperhatikan halal-haram. Bahkan jika ada celah, ajakan berbuat baik disampaikannya. Mungkin tidak langsung efektif, tapi siapa tahu ke depan ada perubahan. Yang penting itu ikhtiar terus.

Dalam mengajak pada kebaikan, banyak cara digunakan. Sekarang satu cara, besok cara lainnya, lusa cara lainnya lagi. Semoga Allah ta'ala turunkan hidayah.

Seiring kreativitasnya seputar cara-cara mengajak orang lain pada kebaikan, orang ikhlas dikaruniai Allah ta'ala prestasi demi prestasi. Ia semakin bersyukur kepada-Nya. Berikutnya ia gunakan semua prestasinya untuk mengajak sebanyak mungkin orang menuju kebaikan.

Sebagai ikhtiar merawat semangat beramal shaleh, seorang ikhlas berupaya muhasabah diri terus-menerus. Jangan sampai keikhlasannya terkotori. Sedikit saja ditemukan kotoran, kemungkinan kekuatan ruhiyahnya melemah. Setan akan masuk, mengacak-acak akalnya dan memanaskan hawa nafsunya. Orientasinya akan berubah, dari ketaatan kepada-Nya jadi kemaksiatan.

Satu ikhtiar muhasabah diri yang dilakukan seorang ikhlas, selain istighfar, antara lain menghadiri majelis taklim. Ia menambah ilmu, juga mengonfirmasi seberapa benar amal shalehnya selama ini. Selain itu, dengan menghadiri majelis taklim, semoga rahmat Allah ta'ala turun kepada dirinya. Sehingga ia konsisten dalam kebaikan.

Ikhtiar muhasabah diri lainnya adalah membereskan hal-hal kotor dengan tangan sendiri. Ia mengerjakannya sendiri, kala sepi. Kadang ia melakukannya dengan gotong royong.

Tidak mudah menjadi orang ikhlas. Terbentang jalan panjang nan terjal. Namun akhir kesudahannya itu bahagia tiada bertepi, di alam kubur dan juga di akhirat.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close