Khutbah Jumat: Ibrah dari Nabi Ibrahim dan Ismail ‘Alaihumassalam
![]() |
| Ilustrasi |
KHUTBAH PERTAMA
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, marilah kita mengambil pelajaran besar dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Kisah ini bukan sekadar sejarah, tetapi penuh ibrah tentang keimanan, ketaatan, pengorbanan, dan pendidikan keluarga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka tatkala anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
QS. Ash-Shaffat ayat 102
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Dari kisah ini terdapat beberapa pelajaran penting:
Pertama, ketundukan total kepada Allah.
Nabi Ibrahim adalah sosok yang sangat taat. Ketika Allah memerintahkan sesuatu, beliau tidak membantah dan tidak menunda. Bahkan ketika perintah itu sangat berat, yaitu menyembelih putra yang sangat dicintainya.
Inilah hakikat iman: mendahulukan perintah Allah di atas hawa nafsu dan kepentingan dunia.
Kedua, pentingnya mendidik anak dengan iman dan ketaatan.
Lihatlah bagaimana jawaban Nabi Ismail: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Ini menunjukkan bahwa Ismail tumbuh dalam pendidikan tauhid, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah.
Anak saleh tidak lahir begitu saja, tetapi dibentuk dengan doa, keteladanan, dan pendidikan yang benar sejak kecil.
Ketiga, pengorbanan akan melahirkan kemuliaan.
Karena keikhlasan Ibrahim dan Ismail, Allah mengganti Ismail dengan sembelihan yang besar. Hingga hari ini, umat Islam mengenang pengorbanan itu melalui ibadah qurban.
Maka dalam kehidupan ini, setiap perjuangan di jalan Allah memerlukan pengorbanan: waktu, tenaga, harta, bahkan perasaan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di zaman sekarang, banyak orang tua sibuk mengejar dunia tetapi lalai membina akhlak dan agama anak-anaknya. Padahal keberhasilan sejati bukan hanya sukses dunia, tetapi ketika keluarga menjadi keluarga yang taat kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memiliki iman seperti Nabi Ibrahim dan ketaatan seperti Nabi Ismail.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita meneladani keluarga Nabi Ibrahim dalam kehidupan kita sehari-hari: taat kepada Allah, menjaga shalat, mendidik anak dengan agama, dan siap berkorban demi kebaikan.
Jangan sampai kita lebih mencintai dunia daripada ketaatan kepada Allah. Sebab segala yang kita miliki hanyalah titipan dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Allahumma fir lil muslimina wal muslimat, wal mu’minina wal mu’minat, al-ahya’i minhum wal amwat.
اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا، وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا، وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.
فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.
.jpg)

Post a Comment