Empati Seorang Pemimpin dalam Membuat Keputusan

Metode penelitian, secara umum, terbagi dua: Kuantitatif dan kualitatif.


Sebagaimana diketahui, kuantitatif mengacu pada angka. Data yang dikumpulkan berupa angka. Penafsirannya juga berbasis nalar angka.

Sementara kualitatif mengacu pada fenomena yang ditangkap indera, terutama mata. Semua yang diindera kemudian dituangkan dalam tulisan deskriptif atau naratif. Selanjutnya pengelompokan hasil penelitian dilakukan, untuk kemudian lanjut pada penafsiran.

Kedua metode penelitian ini sama pentingnya, bahkan saling melengkapi. Oleh karena itu lahirlah metode penelitian campuran. Kuantitatif memberikan data terlebih dulu lalu diperdalam lewat kualitatif, atau bisa juga sebaliknya.

Berbagai metode penelitian ini semoga memberikan inspirasi kepada seorang pemimpin bahwa mengumpulkan data untuk diambil kesimpulannya itu kadang rumit. Berbagai langkah perlu dilalui. Sangat tidak dianjurkan kepada seorang pemimpin untuk percaya pada satu data saja. Konfirmasi dan penjelasan masih diperlukan. Sehingga kesimpulannya benar-benar akurat.

Dengan akurasi tersebut, semoga keputusan yang diambil seorang pemimpin memiliki dampak. Diawali dengan sosialisasi yang relatif diterima oleh publik, keputusan sang pemimpin lebih mudah diaplikasikan di lapangan. Berikutnya evaluasi menunjukkan output dan outcome yang memuaskan.

Mungkin muncul anggapan, keterampilan olah data itu satu-satunya kunci sukses pemimpin dalam mengambil keputusan. Akan tetapi apabila ditelaah lebih jauh, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena pada satu dua kasus, keterampilan olah data justru digunakan untuk memanipulasi data. 

Empati lebih diperlukan ketimbang keterampilan olah data. Dengan empati seorang pemimpin akan terdorong mencari cara agar dapat mensejahterakan orang-orang yang dipimpinnya. Belajar dilakukan, jika itu diperlukan. Atau, ia akan mengangkat ilmuwan terpercaya untuk membantunya.

Empati pula yang akan membawa sang pemimpin untuk senantiasa jujur dan terbuka. Empati pula yang akan mendorongnya untuk menciptakan budaya jujur dan terbuka. Stafnya tidak boleh berdusta, tidak boleh juga menyembunyikan kebenaran. 

Rumusnya sederhana, menyembunyikan kebenaran sama dengan membunuh sang pemimpin. Sedangkan membunuh sang pemimpin sama dengan membunuh seluruh orang-orang yang dipimpin. Demikian efek dominonya.

Lebih dahsyat jika empati tumbuh karena tanggung jawab spiritual sang pemimpin. Ia sadar akan kehidupan akhirat. Bahwa apa yang dilakukan manusia di dunia akan dibalas di akhirat. 

Oleh karena itu, sebagai pribadi atau pemimpin, ia senantiasa menabur kebaikan. Empati disuburkan, penelitian digencarkan, supaya aspirasi terdengar dan bisa ditindaklanjuti. Doa-doa kebaikan dipanjatkan untuknya. Sungguh sosok pemimpin yang beruntung.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close