Tak Henti Berempati



Fragmen 1

Seorang lelaki baru saja pulang dari tugas luar kota. Ia masih merasakan lelah. Akan tetapi karena sudah berjanji kepada anaknya untuk pergi belanja kebutuhan sang anak, akhirnya ia memilih menguatkan badan dan beranjak pergi bersama sang buah hati. Ia berusaha memahami perasaan sang anak, kebutuhan yang akan dibeli mungkin sudah mendesak.


Fragmen 2

Seorang penumpang ojek online terkejut ketika abang ojek online yang membawanya bertanya, “Akun Kakak itu unggulan ya?”

Selama ini ia tidak pernah memeriksa akunnya. Hanya ia berusaha untuk sama-sama nyaman, dirinya dengan para abang ojek online. Ia memperjelas titik jemput, tidak membuat driver menunggu, dan senantiasa ada tip meskipun sedikit. Ia sadar bahwa abang ojek online memiliki hidup yang berat di jalanan.

 

Fragmen 3

Di suatu pagi, tiba-tiba seorang pimpinan kantor dimintai izin oleh karyawannya. Kakak sang karyawan sedang sakaratul maut. Tidak hanya memberi izin, tapi sang pimpinan kantor bersama seorang stafnya ikut mengantar sang karyawan ke rumah sakit tempat kakaknya sedang sakaratul maut. Sang pimpinan khawatir, jika sang karyawan berangkat sendiri ke rumah sakit, kecelakaan bisa terjadi. Karena sang karyawan sedang kalut.


Sebenarnya masih banyak fragmen kehidupan yang bisa disampaikan sebagai cerita tentang empati. Akan tetapi semoga tiga fragmen itu mencukupi. Paling tidak tiga fragmen itu mewakili tiga tempat aktivitas utama manusia: Rumah, jalanan, dan kantor.

Empati sendiri dapat dipahami sebagai usaha memahami perasaan dan pikiran orang lain yang menggerakkan seseorang memberikan solusi sesuai kemampuan. Sebagaimana pada fragmen 1, seorang ayah berusaha memahami keinginan belanja sang anak, lalu menguatkan badannya untuk kemudian pergi belanja bersama sang anak. 

Jika empati tiada dalam hatinya, ia mungkin secara sepihak mengundur waktu. Bahkan tidak segan ia mengatakan sesuatu yang sepele tapi bisa menyakitkan, semisal, “Belanja begituan tidak penting-penting banget. Besok juga bisa.”

Dengan empati seseorang rela memberi lebih, seperti pada fragmen 2. Walaupun dengan memberi lebih, sang pemberi mengalami kerepotan. Karena kebutuhan dirinya juga banyak. Akan tetapi ada empati yang kuat, sehingga pengaturan keuangan dilakukan. Mungkin sebagian kebutuhan ditunda, atau sebagian pengeluaran lebih diirit.

Fragmen 3 juga menceritakan kepedulian pimpinan kepada karyawannya. Mungkin ia mengalami kerepotan karena pekerjaannya tertunda. Akan tetapi ia melihat bahwa situasi aman karyawan lebih penting ketimbang pekerjaannya. Pekerjaannya masih mungkin dilembur, sementara keamanan karyawan tidak bisa ditawar. 

Empati membawakan budaya saling mengerti dan memberi dalam sebuah komunitas. Sehingga potensi konflik berkurang. Situasi lebih terasa aman dan nyaman.

Apalagi berkaitan dengan keuangan, hendaklah empati senantiasa dimunculkan. Seorang penghutang perlu proaktif membayar hutangnya, jangan sampai ditagih. Apabila memang situasi keuangan sedang sulit, maka baiknya ia aktif meminta pengunduran waktu pembayaran.

Demikian pula seorang pembeli kepada penjual, pemberi kerja kepada buruh, dan warga kepada bendahara iuran lingkungan. Hendaklah jangan ditunda atau menunggu ditagih. Hidupkan empati, tunaikan semua kewajiban dengan kesadaran untuk aktif menunaikan kewajiban.

Lebih jauh, empati merupakan ciri orang beriman. Bukankah ada hadits untuk seorang beriman berlaku sebaik-baiknya terhadap hewan yang akan disembelih? Jika terhadap hewan, seorang beriman berlaku sebaik-baiknya, apatah lagi kepada sesama manusia.

Wallah a’lam.  

 

 

Powered by Blogger.
close