Detakan Kata Menyusuri Sederetan Jiwa


Umumnya setiap orang memiliki pikiran. Sedangkan pikiran dibangun oleh kata-kata. Semakin banyak kata yang dimiliki, pikiran dimungkinkan luas sekaligus kokoh.

Oleh karena itu salah satu hal terpenting bagi manusia adalah mengumpulkan kata, baik dari bahasa ibunya atau asing. Pengumpulan kata ini bisa dilakukan lewat membaca, memirsa, atau berbincang.

Jangan pernah meremehkan sebuah kata. Terkadang di baliknya ada makna yang dalam, mengantarkan pada kesadaran tentang kekayaan hidup. Sehingga hidup layak disyukuri.

Kesadaran yang dibentuk oleh kata inilah yang kerapkali ditakuti penguasa zhalim. Karena orang yang dikuasainya berkemungkinan memiliki energi hidup setelahnya. Perlawanan terhadap kezhaliman hanya menunggu waktu.

Di sisi lain kesadaran yang dibentuk oleh kata justru dicintai oleh para pecinta. Karena dengan kata, mereka semakin sadar betapa dalam cinta mereka. Untaian kata berbalut rindu memaksa masuk ke relung hati dan akal, mendobrak tak kenal ampun lalu lantang berteriak, "Engkau sedang jatuh cinta!"

Kemudian kata juga lah yang dimohonkan menjadi jembatan hati, agar pesan cinta tiba di hati kekasih. Berikutnya cinta terjalin. Suka dan duka bersama dijalani, didekap oleh mantel bernama cinta.

Tak berhenti di titik ini. Kata juga jadi mitra cendekia untuk bercerita tentang pengetahuan serta berita yang selaksa. Agar orang Bertambah isi kepala. Semakin cerdaslah semua insan di dunia.

Kata memang terlihat sederhana. Di sisi lain tak pernah kata meminta untuk diposisikan istimewa. Ia sadar bahwa ia juga ciptaan. Sementara ciptaan Sang Kuasa memiliki perannya masing-masing, juga derajatnya.

Kata hanya meminta untuk ditulis di catatan-catatan. Semoga generasi ke generasi mengikuti perjalanan kata tersebut. Sehingga pesan peradaban mampu terselamatkan hingga generasi paling muda.

Kata, seiring zaman, tidak hanya diucap oleh lisan dan ditulis oleh pena. Semakin canggih penulis kata. Apatah lagi penyebarnya.

Dengan demikian, sebagai kesyukuran, setiap insan diharapkan menggunakan kata secara seksama. Kata tidak diucap serampangan. Apalagi kata digunakan untuk menyakiti.

Cukuplah kata digunakan untuk menolong satu sama lain, menghibur, dan mengajak pada kebaikan-kebaikan. Maka hubungkanlah kata dengan iman. Pereratlah. Semoga kata dijumpa di dunia, lalu disapa lagi di surga.

Wallah a'lam. 
Powered by Blogger.
close