Piring Kesayangan, Rindu, dan Istighfar
Lelaki itu termenung. Tatapannya mengarah ke sebuah piring kosong. Awalnya fokus, tapi lama-kelamaan tatapannya menghampa.
Tak bisa ia menangis. Tak bisa pula ia berteriak. Diam, hanya itu yang bisa dilakukan.
Tadi pagi putrinya
meminta uang untuk membeli jajan. Tapi uang sudah tidak dimilikinya lagi. Spontan
ia berkata, “Pergilah ke sekolah dulu, Nak. Insya Allah nanti siang Ayah akan
memberikanmu uang jajan.”
Setelah sang putri pergi, sang lelaki pergi ke dapur. Ia menuju sebuah lemari yang berisi sejumlah piring. Diambillah sebuah piring. Seketika hening menyergapnya.
Sang lelaki akan menjual piring di tangannya. Karena piring ini paling bagus di rumahnya. Di sisi lain, piring ini kesayangan almarhumah istrinya.
Setiap kali piring ini dikeluarkan oleh almarhumah sang istri, tak pernah lama kemudian piring ini dikembalikan ke lemari kembali. Tentu piring itu sudah bersih dan kering. Benar-benar terlihat rasa sayang almarhumah sang istri pada si piring.
Mata sang lelaki kemudian menutup. Setelah berdiri, badannya melemah. Lututnya bersimpuh. Piring itu dipeluk kuat. Kemudian air mata mengalir disertai isak tertahan.
“Tuhan, aku tak punya uang lagi,” rintihnya.
Istighfar meluncur berkali-kali dari mulutnya. Air mata masih mengalir. Bayangan almarhumah istrinya terbersit di matanya.
Sang istri tersenyum. Lututnya mendekati lutut sang suami. Tangannya menyeka pipi sang suami. Sang suami ikut tersenyum.
Setelah bayangan almarhumah sang istri menghilang, ia beranjak ke pintu untuk keluar rumah. Ia bermantap hati untuk menggadai piring itu. Ia pun bertekad akan berusaha lebih keras mencari nafkah. Semoga si piring kesayangan bisa ditebus kembali.
Belum lagi daun pintu ia buka, terdengar seseorang dari luar rumah mengetuk daun pintu. Ia kaget. Seketika ia menyeka air matanya.
Selanjutnya sang lelaki membuka pintu. Terlihat seorang lelaki tua berdiri di situ. “Ini upahmu pekan lalu. Maaf, kemarin Sabtu aku pergi ke luar kota tanpa menitipkannya ke orang lain. Ohya aku tambahkan sedikit sebagai permintaan maafku,” ujar sang lelaki tua.
Langsung sang lelaki menerimanya. Ia juga mengucapkan terima kasih dengan takzhim. Hampir-hampir air mata tertumpah lagi dari matanya.
Sepeninggal sang lelaki tua, sang lelaki termangu. Kemudian ia bersujud syukur, berterima kasih kepada Sang Pemberi Rezeki. Bahagia menyelimuti hatinya.
Istighfar yang dilakukannya mempercepat datangnya rezeki, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam Al-Qur’an surat Nuh ayat 10-12, “Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, serta membanyakkan harta dan anak-anak kalian, serta mengadakan untuk kalian kebun-kebun, serta mengadakan sungai-sungai di dalam kebun-kebun itu.”
Wallah a’lam.


Post a Comment