Kuat dalam Ujian Kehidupan Berbekal Ilmu


Dalam hidup ada dua pilihan mesti dipilih, yakni menghadapi ujian atau menghindarinya. Menghadapi ujian berarti siap dengan manis atau pahitnya situasi, berharap ada sesuatu yang bisa dicapai. Sementara mengindari ujian berarti memilih untuk tidak mencapai sesuatu, karena enggan dengan situasi yang dijalani. 

Iya, benar sekali, terdapat hubungan antara antara ujian dengan pencapaian. Bahwa manusia akan diuji bila ingin mencapai sesuatu. Sebuah upaya perlu dilakukan, sekecil apapun.

Misalkan orang ingin kenyang, maka ia perlu makan. Mulutnya butuh dibuka. Jika tak mau mulutnya dibuka, maka ia harus siap merasakan sakit diinfus.

Misal lainnya sepasang insan ingin saling mencintai, maka butuh upaya saling memberi dan menerima. Di sini ada ujian manis dan pahit. Sepasang insan tersebut mesti siap untuk merasakan manis dan pahit, apabila ingin cinta menyelimuti keduanya.

Ujian manis kadang menggoda. Kekayaan salah satu wujudnya. Akan tetapi bukan berarti ini ujian ringan. Banyak insan yang gagal, dicirikan dengan renggangnya hubungan baik antarinsan.

Sebaliknya, ujian pahit sangat dihindarkan. Akan tetapi sebagian insan menjadi semakin kuat karenanya. Kualitasnya semakin bagus.

Oleh karena itu perihal panting untuk ditumbuhkan adalah kekuatan menghadapi ujian. Senantiasa terhubung kepada Allah ta'ala itu kunci utamanya. Karena Allah ta'ala akan senantiasa menyertai orang yang selalu berusaha dekat kepada-Nya.

Di sisi lain setan dan pihak-pihak yang bersamanya selalu berusaha menjauhkan manusia dari Allah ta'ala. Digodalah manusia olehnya. Ditabur banyak hiasan di kulit busuknya dunia. Tipuan disebar ke mana-mana.

Satu bekal untuk menghindari jebakan-jebakan setan, selain niat yang kukuh, adalah ilmu. Dengan ilmu dapatlah dibedakan emas dengan debu, begitu pula asli dengan imitasi. Oleh karena itu setiap orang butuh ilmu.

Ilmu ini diwariskan oleh para ulama dan cendekia lewat berbagai cabang ilmu. Sebagian besarnya lewat ilmu agama. Sebagian lainnya lewat ilmu dan pengetahuan umum.

Tugas seorang manusia adalah mempelajari semua ilmu sesuai kebutuhan dan kapasitasnya. Semakin bertambah usia dan rumitnya situasi, kebutuhan ilmu semakin bertambah. Repotnya kadang kapasitas sudah mulai menurun.

Meskipun demikian tetaplah ilmu perlu diikhtiarkan. Agar apa yang terjadi di lapangan dapat dipertemukan dengan apa yang tertulis di buku-buku. Seorang insan semakin pintar dalam memilih, menghindari ujian atau kuat menjalaninya.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close