Menentramkan Hidup dengan Mengupayakan Penerimaan dan Empati
Hidup ini ujian. Ada ujian nikmat, ada pula derita. Keduanya perlu dilalui dengan baik.
Menghadapi ujian nikmat, seseorang mungkin gagal, mungkin pula sukses. Kegagalan ditandai dengan sikap atau perilaku lupa daratan, sombong. Sementara kesuksesan ditandai dengan rendah hati dan kerelaan untuk berbagi.
Adapun menghadapi ujian derita, sama saja, dua kemungkinan terbentang: Gagal atau sukses.
Kegagalan menghadapi ujian derita ditandai dengan menurunnya kesabaran. Akibatnya macam-macam tapi muaranya satu, yakni derita semakin terasa berat. Sedangkan kesuksesannya ditandai dengan ketenangan dalam menerima derita, bahkan mencari jalan keluar.
Secara umum ada tiga sikap dalam menghadapi ujian, baik ujian nikmat ataupun derita: Menyangkal, mendramatisir, atau menerima.
Menyangkal dan mendramatisir, kedua sikap ini bahaya. Karena keduanya berpotensi melahirkan perilaku salah. Akibatnya hidup dipenuhi dengan konflik dan tekanan batin.
Menyangkal nikmat harta, misalkan, berpotensi melahirkan sikap pelit dan serakah. Di dalam hati selalu ada rasa bahwa harta masih sedikit. Sehingga upaya memperbanyak harta terus dilakukan walaupun melalui jalan salah. Hati kecil mungkin awalnya berontak, tapi terus ditekan. Akhirnya konflik batin terjadi, ditandai dengan mencari berbagai pembenaran atas semua kesalahan yang dilakukan.
Menyangkal derita sakit, misal lainnya, berpotensi melahirkan sakit yang lebih parah. Bukannya diobati atau diterapi, sakit dianggap tiada. Aktivitas terus berjalan seperti biasa. Pada satu waktu kemudian, ambruklah tubuh.
Sekarang marilah beralih ke contoh-contoh tentang mendramatisir. Mendramatisir harta berpotensi melahirkan perilaku narsis. Sementara mendramatisir rasa sakit berpotensi salah diagnosis serta pengobatan.
Oleh karena itu sikap menerima butuh dihadirkan. Agar ujian dinyatakan ada terlebih dahulu, setelah itu dilakukan tindakan yang relatif tepat. Semisal adanya harta, maka perlu tindakan tepat seperti belanja dan sedekah. Semisal adanya sakit, maka berikutnya dilakukan pengobatan.
Fisik sehat dan menarik, ini misal berikutnya. Perlu kiranya nikmat ini diterima dengan wajar. Berikutnya syukur dihadirkan. Wujudnya perawatan semampunya.
Demikian pula jika ada kekurangan pada fisik, baik kiranya diterima dengan lapang dada. Selanjutnya ditelaah, apa saja opsi yang tersedia. Lalu pilih satu opsi paling memungkinkan, semisal beraktivitas sesuai batas-batas yang memungkinkan.
Sikap menerima, selain membuahkan kebaikan kepada diri sendiri, juga kepada orang lain. Empati tumbuh. Bahwa apa yang ada pada orang lain, entah nikmat atau derita, semuanya ujian. Akan ada masanya untuk setiap orang dihisab atas semua ujian.
Iri, menghardik, merendahkan, mencibir, dan penyakit hati lainnya tidak perlu muncul. Sebagai gantinya, apapun yang berlaku di kehidupan, biarlah akhirnya dikembalikan kepada Allah ta'ala.
Sekali lagi menerima itu bukan pasrah justru awal dari rangkaian tindakan yang tepat. Menerima itu dekat dengan ridha. Sedangkan ridha dekat dengan ketentraman hidup.
Wallah a'lam.



Post a Comment