Mengikhtiarkan Positive Vibes sebagai Intangible Capital di Institusi Profesional

Tiap orang di tempat kerja seringkali memiliki sisi-sisi kompetensi yang tidak merata. Mungkin di sisi perencanaan, seseorang matang. Akan tetapi ia tidak begitu kuat di sisi eksekusi. Contoh lainnya seseorang lemah di perencanaan dan evaluasi, tapi kuat di eksekusi.

Dalam hal ini dua jenis komentar, positif dan negatif, berpotensi muncul.

Komentar negatif berbunyi kurang lebih seperti ini, “Iya sih, dia jago kalo urusan tulis-menulis. Perencanaan yang dia buat pasti keren. Tapi gimana eksekusinya…zero.”


Komentar positif berbunyi kurang lebih seperti berikut, “Dia udah jago di urusan tulis-menulis. Perencanaan yang dia buat selalu keren. Tinggal di eksekusi, semoga dia mau memprioritaskan pengembangan diri di situ dalam beberapa tahun ini.”

Kedua jenis komentar tersebut sama-sama menyampaikan keunggulan dan kelemahan orang yang dijadikan objek perbincangan. Akan tetapi vibes-nya beda. Komentar jenis pertama tidak memberikan peluang perbaikan di masa depan. Sedangkan komentar kedua, sebaliknya, membuka dan mendorong perbaikan di masa depan.

Jika di satu tempat kerja, komentar negatif lebih banyak bertebaran, maka suasana saling dukung antarorang sulit didapatkan. Akibatnya keinginan untuk seseorang berkembang hampir tidak ada. Apabila ada kegiatan pengembangan diri yang sifatnya komunal, vibes menggugurkan kewajiban lebih terasa. Tidak terlihat wajah-wajah antusias. Adanya senyum-senyum sinis, baik kepada pengisi ataupun sesama peserta kegiatan.

Sementara itu jika komentar positif lebih banyak ditemukan, maka suasana saling dukung lebih mudah tercipta. Motivasi untuk seseorang berkembang dapat lebih mudah diinduksikan. Kegiatan-kegiatan pengembangan diri komunal diikuti dengan antusias. Semua instruksi dari pengisi kegiatan didengarkan, dipahami, dan dijalankan dengan optimal. Dampaknya terlihat tidak lama setelah kegiatan tersebut rampung.

Pemimpin di tempat kerja perlu memahami pentingnya vibes. Bahkan positive vibes berpotensi menjadi intangible capital. Karena dari positive vibes, sebagaimana telah disampaikan, motivasi personal untuk berkembang lebih mudah terbangun. Berikutnya dilakukan fasilitasi perkembangan personal. Selanjutnya sinergi perkembangan antarpersonal bisa ditransformasikan menjadi perkembangan institusional.

Dalam hal ini pemimpin perlu mempelajari social engineering. Sehingga proses pembangunan positive vibes lebih mudah terjadi. Tidak instan, tapi positive vibes tetap memiliki peluang untuk diwujudkan.

Satu catatan lagi yang penting bagi pemimpin adalah urgensi kesiapan pemimpin untuk menjadi teladan. Karena pemimpin merupakan center of virtous, pusat kebajikan. Keteladanannya akan memberikan dampak yang luas kepada para pekerja. Semoga para pekerja lebih mudah memahami koneksi antara apa yang diharapkan secara verbal dengan apa yang didemonstrasikan secara inderawi.

Lebih jauh positive vibes tidak sekedar masalah pekerjaan. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni kemanusiaan. Harapannya dimanapun berada, seorang insan merasakan positive vibes. Sehingga kelebihannya terus bertumbuh, sementara kekurangannya bisa diperbaiki. Semuanya dilakukan dengan antusias berbasis kesyukuran.

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close