Memahami Tantangan Orang Lain dalam Berpikir Abstrak di Kehidupan Sehari-hari
Fragmen 1
Seorang anak baru pulang sekolah.
Masuk rumah, ia langsung menuju kamar. Orangtua sang anak melihatnya, lalu
berkomentar, “Kamu itu setiap pulang sekolah, langsung masuk kamar. Apa kamu nggak
mau bantu orangtua? Orangtua capek seharian kerja dan ngurus rumah, kamu di sekolah
kan cuma duduk saja.”
Sang anak langsung keluar kamar,
membawa buku, dan menyodorkannya kepada sang orangtua dengan sedikit kasar, “Ini
pelajaranku hari ini. Aku pusing.”
Fragmen 2
Seorang pekerja berusia 30 tahunan
sedang mengoperasikan laptop, juga membuka gawai. Dari arah belakang, seorang
pekerja berusia 55 tahunan menghampirinya lalu berkomentar, “Kamu itu anak
muda, kerjaannya main laptop dan hape terus. Kapan produktifnya?”
Sang pekerja muda menjawab, “Kan
kerjaanku memang digital marketing?”
Fragmen 3
Di satu grup WA untuk para admin komunitas,
seorang senior menulis chat, “Admin yunior sekarang enak. Ruangan AC, tidak
perlu panas-panasan, kendaraan sudah tersedia.”
Seorang yunior yang membaca chat itu
ingin berkomentar. Tapi ia urung melakukannya. Hatinya saja yang berkomentar, “Mempertahankan
dan mengembangkan organisasi perlu energi yang besar juga. Ada tantangannya
tersendiri.”
Ketiga fragmen tersebut sering
ditemui di kehidupan sehari-hari. Di rumah, tempat kerja, dan komunitas sama
saja. Ada semacam kesalahpahaman antara orang berusia senior dengan orang lebih
muda.
Tulisan ini tidak bermaksud membela orang muda, apalagi menyalahkan senior. Akan tetapi maksud tulisan ini adalah mendudukkan perkara sebenarnya. Semoga ke depan tidak ada lagi kesalahpahaman antarinsan, bahkan semoga ada saling dukung.
Mari mulai menelaah. Ada perspektif orangtua/senior yang digunakan untuk menilai situasi yang berlangsung. Perspektif tersebut dibangun oleh pengalaman mereka, terutama pengalaman konkret. Permasalahannya situasi yang berlangsung lebih bersifat abstrak. Pelajaran di sekolah, terutama tingkat menengah, lebih banyak abstrak. Apalagi digital marketing dan pengembangan komunitas, abstrak sekali. Dan masih banyak lagi hal-hal yang sifatnya abstrak.
Ada ketidaksambungan di tingkat pemikiran. Sehingga terjadi ketidaksambungan di komunikasi. Konflik, walaupun dalam diam, akhirnya terjadi.
Oleh karena itu baiknya setiap pihak mengerti tantangan insan, tidak hanya orang muda, saat berhadapan dengan hal-hal abstrak.
Pertama, tantangan fokus. Seseorang yang sedang menelaah hal abstrak harus fokus. Agar penjelasan runtut didapatkan. Sehingga pemahaman terbangun. Hilang fokus sebentar, bisa kacau semua penjelasan.
Kedua, tantangan gambaran. Hal abstrask yang diterima seseorang sesungguhnya memiliki gambaran, berupa bagan atau narasi kata-kata. Setiap orang perlu menggambarkannya dalam pikiran. Gambaran itu diupayakan seakurat mungkin. Agar gambaran yang dihasilkan bisa menjadi bekal berpikir, juga bekal berkomunikasi kepada orang lain.
Ketiga, tantangan koneksitas. Satu hal abstrak berkemungkinan terhubung dengan hal abstrak lainnya. Ada juga potensi keterhubungan antara hal abstrak dan konkret. Nah, membangun hubungan-hubungan tersebut membutuhkan energi besar.
Keempat, tantangan immobilitas. Seseorang yang memikirkan hal abstrak kerapkali kurang bergerak. Mungkin aktivitasnya hanya duduk serta berpikir. Orang yang tidak paham bisa memberi penilaian bahwa enak sekali hanya duduk. Padahal justru aktivitas ini mengandung unsur siksaan. Saat tubuh kurang bergerak, potensi penyakit meningkat.
Kelima, tantangan kurang pergaulan. Bergulat dengan hal abstrak kadang menempatkan seseorang di situasi soliter, hampir tida ada sosialisasi. Tentu ini mengurangi kesempatan untuk membangun antarinsan yang suportif.
Lima tantangan tersebut tidak ringan. Orang berusia muda dan tua sama-sama perlu energi besar. Oleh karena itu hendaklah ada kemakluman kepada orang-orang yang aktivitasnya lebih banyak memikirkan hal abstrak. Alih- alih memberi penilaian, lebih baik empati diberikan. Agar banyak hal semakin jelas, berat atau ringannya. Situasi semakin terukur. Komunikasi lebih membuat nyaman semua pihak. Kualitas hidup terus meningkat.
Wallah a’lam.


Post a Comment