Mempelajari Model Apresiasi Positif dari Cara Allah Ta'ala Menyanjung Orang Beriman
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang besar.”
(Terjemah Q.S. Al-Buruj: 11)
Para
mufassir bersepakat bahwa orang-orang dengan iman dan amal shaleh akan
mendapatkan surga dari Allah ta’ala. Surga itu indah, menenangkan, sekaligus
menyenangkan. Sebaliknya orang kafir dan beramal buruk, bagi mereka neraka yang
penuh kesengsaraan.
Ayat dengan redaksi yang sama berjumlah banyak. Sehingga seorang muslim benar-benar paham bahwa keimanan dan kebaikan akan berbuah surga. Ini jadi satu motivasi yang sangat kuat untuk menjaga serta menumbuhkan keduanya.
Akan tetapi
yang masih jarang dipahami seorang muslim adalah cara Allah ta’ala menyanjung
dirinya. Bahwa, sebagaimana dapat dibaca di ayat tersebut, seorang muslim
berhak mendapatkan surga tanpa menyebutkan Allah ta’ala sang pemberi surga itu sanjungan yang luar biasa. Betapa seorang makhluk yang penuh kehinaan punya
semacam hak atau kompensasi untuk mendapatkan surga.
Apabila Allah
ta’ala menyanjung manusia sedemikian rupa, maka seharusnya seorang manusia malu.
Dirinya yang masih penuh kekurangan ditempatkan di posisi yang sangat tinggi.
Padahal jika ditimbang atau ditelaah sepenuh akuntabilitas, apalah bobot
manusia itu.
Dapat
dipahami bahwa Allah ta’ala ingin memberikan pelajaran agung. Siapapun yang
berbuat baik, maka berhak mendapatkan apresiasi. Apresiasi itu perlu berkualitas
sehingga mampu menumbuhkan motivasi yang lebih tinggi. Bukan hanya diri orang
yang diapresiasi, tapi orang lain yang mendengarkannya juga.
Kualitas apresiasi bersifat menyeluruh, kulit dan isinya. Dalam ayat 11 surat Al-Buruj yang sedang dikaji ini, kulitnya adalah redaksi yang indah, yakni tidak menyebutkan siapa yang memberi. Seakan-akan yang memberi itu tidak penting. Yang terpenting adalah siapa yang mendapatkannya. Sementara itu isinya juga indah, sangat indah, yaitu surga.
Nah, dari pemahaman tersebut, hendaklah sebuah sirkel atau komunitas memahami pentingnya apresiasi bagi tumbuhnya kebaikan-kebaikan, sekecil apapun kebaikan itu. Ucapan terima kasih dan doa merupakan apresiasi yang bisa diberikan segera. Sifatnya juga murah. Akan tetapi dampaknya tidak remeh. Karena cahaya akal dan jiwa berpotensi semakin terang saat kata-kata baik semisal doa tulus terdengar.
Adapun jika apresiasi itu berbentuk barang atau makanan, hendaklah dibelikan dan diberikan dengan cara yang baik. Agar penerimaan berdampak pada jiwa. Motivasi berbuat baik semoga semakin menyala.
Problemnya masih banyak orang beranggapan bahwa berbuat baik itu biasa, alamiah. Maka tidak perlu apresiasi segala rupa. Padahal berbuat baik membutuhkan kompleksitas. Ada akal yang berpikir, pun jiwa yang terbakar motivasi. Sehingga seharusnya apresiasi diberikan dengan sungguh-sungguh.
Di sisi
lain, saat kesalahan dilakukan, kemarahan sering harus diterima oleh orang yang
berbuat salah. Kata-kata kasar kadang ikut terdengar. Maka ketidakseimbangan
terjadi. Saat perbuatan baik dilakukan, hampir tidak ada apresiasi. Namun saat
keburukan terjadi, kemarahan dan kata kasar datang bertubi-tubi.
Sudah waktunya untuk kembali mempelajari cara mengapresiasi kebaikan, sebagaimana dituntunkan oleh Allah ta’ala. Tidaklah rugi melakukannya, sedikit demi sedikit. Agar pemahaman lebih kokoh juga.
Apalagi di Ramadhan mulia ini, semoga ada kepekaan dan kesiapan untuk mempelajarinya, dipraktikkan juga perlahan. Setelah selesai Ramadhan, kelanjutannya tidak putus. Sehingga kualitas hidup, terutama generasi mendatang, jauh lebih baik.
Wallah a’lam.


Post a Comment