Kecerdasan Emosional Islami
Dalam buku Kecerdasan Emosional,
Goleman menceritakan tes tentang kecerdasan emosional. Tes ini dilakukan pada
anak-anak di satu ruang. Setiap anak diberi permen. Kemudian seorang dewasa di
situ berkata, “Kalo memakan permen itu sekarang, kalian tidak akan mendapatkan
tambahan permen. Tapi kalo kalian bisa tahan 10 menit, tidak langsung memakan
permen itu, maka kalian akan mendapatkan tambahan permen.”
Masih dari buku tersebut, diceritakan ada anak yang memakan permen langsung dan ada juga yang tidak langsung memakannya. Ya, anak itu diberi tambahan permen. Kebahagiaannya dapat dibayangkan.
Inilah salah satu gambaran tentang kecerdasan
emosional. Seseorang berkenan menahan diri, tidak melakukan sesuatu, supaya
mendapatkan insentif yang berharga. Rasa berat sangat mungkin terasakan. Akan
tetapi dengan tergapainya insentif, rasa berat itu tergantikan bahagia.
Satu titik kritis yang perlu
ditelaah adalah keberhargaan insentif. Di kehidupan beriklim liberal, insentif
bebas nilai. Halal-haram tidak penting. Sementara dalam perspektif Islam,
halal-haram tidak bisa dikesampingkan.
Oleh karena itu kehalalan insentif
perlu diperhatikan. Agar konsep kecerdasan emosi yang bagus semakin bertambah
bagus. Nilainya lebih maslahat duniawi dan ukhrawi.
Lebih jauh insentif yang disiapkan
hendaklah tidak kebendaan saja, tapi juga bersifat spiritual. Konsep pahala dikenalkan. Jangan sampai insentif terjebak
pada kebendaan saja. Karena bagaimanapun kehidupan ini terus berlanjut ke
akhirat.
Di sisi lain introdusir pahala mengurangi
potensi kekecewaan atas harapan yang tidak tergapai. Dengan memahami dan
meyakini adanya pahala, seseorang berkemungkinan lebih tabah saat harapan jauh
dari genggaman. Sementara dunia ini kadang tidak selalu sama dengan impian.
Hikmah Ilmiah
Ditemukan satu hikmah ilmiah dari konsep kecerdasan emosi ini, yakni penyempurnaannya oleh ajaran Islam. Sebagaimana telah disampaikan terdapat kebaikan dari konsep ini, bagaimana seseorang bisa sabar untuk meraih insentif berharga di masa depan. Namun ditemukan satu kekurangan mendasarnya: Insentif yang bebas nilai.
Demikianlah sikap seorang muslim. Ia menelaah suatu pengetahuan atau konsep. Jika sisi baiknya dominan, maka diambillah pengetahuan atau konsep tersebut. Lalu penyempurnaan dilakukan. Sebaliknya apabila sisi buruknya dominan dan sulit ditoleransi, maka pengetahuan atau konsep tersebut tidak digunakan.
Dengan perilaku ini, seorang muslim bisa menjaga sikap adil atas segala pengetahuan. Tidak langsung pengetahuan ditolak, dan tidak juga diterima. Akan tetapi ketenangan dan ketelitian dihadirkan, sehingga gambaran utuh diperoleh. Setelah itu barulah sikap diambil. Insya Allah sikapnya presisi dengan keadaan.
Wallah a’lam.


Post a Comment