Tabungan Dzikir dan Pikir
Jengkel terasa. Ingin menyalip truk di hadapannya, tapi ia tak kuasa. Jalanan penuh. Walaupun masih memiliki cukup tenaga untuk berlari, motornya tetap tertatih dan mengekor di belakang truk yang lamban.
Tadi sebelum berangkat, saat masih di rumah, ia mengestimasi waktu tempuh ke tempat kerjanya cukup sebelum jam kerja dimulai. Tapi ternyata ia meleset. Sesuatu yang membuatnya melambat kini benar-benar di depan mata.
Segera ia beristighfar. Saat istighfar pertama, rasa jengkel masih terasa menyesakkan dada. Di istighfar kedua, rasa jengkel mulai berkurang. Semakin banyak istighfar, dada semakin lega. Kepala juga terasa lebih dingin.
Sejurus kemudian terbersit sebuah pikiran, mungkin truk lambat di hadapannya sedang membawa barang bawaan yang dibutuhkan orang banyak termasuk dirinya. Wajar jika truk tidak bisa cepat. Bawaannya berat.
Kini rasa jengkel benar-benar menghilang, berganti dengan doa serta harapan. Semoga truk sampai tujuan dengan selamat dan barang bawaan aman. Orang-orang tidak kesulitan mencari barang kebutuhan mereka.
Di sisi lain ia tidak lalai. Motor disiapkan untuk berlari kencang manakala ada peluang. Benar saja, tak lama truk menepi ke kiri. Melihat itu, segera ia mengemudikan motornya sekencang dan seaman mungkin. Estimasinya ia masih bisa tiba di tempat kerjanya tepat waktu, walaupun sangat mepet.
Di sisa perjalanannya, ia masih berpikir, betapa dua orang manusia bisa sama-sama berlari. Kecepatannya pun sama. Akan tetapi situasi hati keduanya sangat mungkin berbeda, satu positif sementara lainnya negatif.
Saat manusia terhubung kepada Allah ta'ala dengan dzikir serta pikir, hati berkemungkinan positif. Kondisinya tenang dan lembut. Sebaliknya jika dzikir dan pikir jarang bahkan tidak pernah hadir, gemuruh akan sering memenuhi hati. Ketidaknyamanan begitu terasa. Gelisah, bingung, dan amarah bercampur. Kualitas hidup jauh dari standar baik.
Oleh karena itu sangat baik jika seseorang meluangkan waktu untuk menabung dzikir dan pikir. Tabungan ini sangat bermanfaat saat situasi sedang ruwet. Mungkin tidak segera solusi ditemukan, sebagaimana sempat amarah terletup, tetapi situasinya relatif terkendali. Dalam waktu tidak lama semoga Allah ta'ala turunkan ketenangan sebagai pijakan kuat menyusun dan menjalankan solusi.
Sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi, Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam memberi arahan tentang tabungan dzikir dan pikir, "Ingatlah Allah di kala lapang, maka Allah akan mengingatmu di kala susah."
Mengucap syukur ia atas pencerahan yang diperolehnya pagi ini. Oh, lihatlah ia tiba tepat waktu. Kesyukurannya semakin lengkap.
Wallah a'lam.


Post a Comment