Ayah, Stabilisator Utama Ruhiyah Keluarga

Salah satu harapan yang kerapkali terlontar dari setiap orang berkeluarga adalah minimnya konflik dalam keluarga. Adanya aman dan nyaman. Semuanya berjalan baik di keluarga. Cekcok tidak ada. Debat menjauh. Senyum senantiasa tersungging. Pancaran bahagia terlihat di wajah seluruh anggota keluarga.


Harapan tersebut wajar. Hal ini dikarenakan konflik sering menguras energi emosi. Kelelahan terasa di keluarga, tanpa diketahui penyebabnya. Pokoknya lelah saja.

Di sisi lain setiap insan perlu ingat, dunia itu tempat ujian. Di mana saja, selama insan hidup, ujian akan menghampiri. Di rumah ada ujian, begitu juga di lingkungan, sekolah, ataupun tempat kantor. Tidak mesti kekurangan, ujian bisa juga berwujud keberlimpahan. 

Dengan mengingat hal tersebut, semoga beberapa antisipasi bisa direncanakan, terutama stabilisasi ruhiyah. Ibadah dikuatkan. Nasehat disampaikan. Saling mengingatkan dibudayakan. Satu lagi yang sangat penting: Saling memaafkan.

Hal ini dikarenakan setan senantiasa menghembuskan dosa dan permusuhan di antara insan. Kapanpun serta dimanapun potensi konflik senantiasa ada, semirip dengan bensin. Cukup pemantik kecil semisal korek api, konflik benar-benar terjadi.

Dengan saling memaafkan, semoga konflik tidak berlangsung lama dan terlokalisir. Mungkin komunikasi tidak langsung dilakukan untuk mencari solusi. Ada jeda komunikasi, saling diam. Akan tetapi ini pilihan baik, ketimbang konflik memburuk menjadi ancaman keselamatan mental serta fisik.


Seiring waktu semoga kelapangan dada mulai terbentang. Perlahan obrolan dimulai. Berikutnya solusi ditemukan.

Satu catatan penting, memaafkan bukan berarti mentoleransi kesalahan. Apabila diperlukan, kesalahan perlu diiringi konsekuensi. Misalkan meletakkan sampah sembarangan, konsekuensinya adalah membereskan sampah.

Hukuman boleh diberlakukan sebagai pilihan terakhir. Hal ini dikarenakan hukuman kadang tidak mengantarkan pemahaman atas kesalahan. Selain itu hukuman perlu konsisten. Sementara pelaku kadang berbeda, semisal usia. Memaksakan hukuman kepada pelaku berbeda berpotensi melahirkan kezhaliman. Sementara membedakan hukuman berpotensi iri dengki.

Catatan penting lainnya, ayah merupakan figur penting dalam menjaga stabilitas ruhiyah. Di pundaknya tanggung jawab akhirat diletakkan. Di akalnya kebijaksanaan ditumbuhkan. Di dadanya rasa maaf dan kasih sayang disemayamkan.

Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, "Apakah aku bisa mencegah darimu jika Allah mencabut kasih sayang dari hatimu? Barangsiapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi."

Hadits tersebut disampaikan Baginda Rasulullah shallallah 'alaihi wa sallam kepada seorang ayah, tentu bukan kebetulan. Hikmah agung dapat ditemukan di sana. Ayah sejati tahu itu.

Wallah a'lam.




Powered by Blogger.
close