Menghidupkan Semangat Belajar Anak: Peran Orang Tua Pasca Liburan
Oleh Akhmad Yunus, M.Pd.I
Liburan panjang semester dan tahun baru sering kali membuat anak-anak terbiasa dengan suasana santai. Dua pekan lebih mereka menikmati waktu tanpa tugas, tanpa bangun pagi, dan tanpa jadwal yang ketat. Ketika sekolah kembali dimulai, sebagian anak merasa berat, malas, bahkan kehilangan semangat belajar. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting untuk mengembalikan antusiasme belajar anak dengan cara yang lembut, penuh kasih, dan berlandaskan nilai-nilai tauhid.
Klik untuk Informasi Pendaftaran SDIT Al-Madinah Kebumen
Belajar
sebagai Tanggung Jawab Seorang Muslim
Dalam Islam, menuntut ilmu bukan
sekadar kewajiban akademik, melainkan ibadah. Rasulullah ï·º bersabda: “Menuntut
ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah). Maka, orang
tua perlu menanamkan kepada anak bahwa belajar adalah bagian dari penghambaan
kepada Allah. Dengan niat yang lurus, ilmu yang dipelajari akan menjadi cahaya
yang membimbing hidupnya.
Allah juga menegaskan dalam QS.
Al-Mujadalah:11: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat."
Ayah bisa berkata kepada anak: "Nak,
belajar itu bukan hanya untuk nilai rapor. Belajar adalah cara kita mendekatkan
diri kepada Allah. Setiap huruf yang kamu baca, setiap ilmu yang kamu pahami,
bisa menjadi amal ibadah bila diniatkan karena Allah."
Bunda menambahkan dengan lembut: "Kalau
kamu merasa bosan, ingatlah bahwa ilmu akan menuntunmu menjadi muslim yang
kuat, bisa menolong orang lain, dan membuat hidupmu lebih bermakna."
Memahami
Penyebab Kebosanan Anak
Orang tua perlu memahami bahwa
kebosanan anak setelah liburan bukanlah tanda malas semata. Anak terbiasa
dengan ritme santai: tidur larut, bangun siang, bermain lebih banyak. Perubahan
mendadak ke rutinitas sekolah membuat mereka kaget. Maka, orang tua jangan
langsung memarahi, tetapi pahami dulu penyebabnya.
Ayah bisa berdialog: "Nak,
ayah tahu kamu terbiasa bangun siang saat liburan. Sekarang sekolah sudah
mulai, wajar kalau kamu merasa berat. Tapi kita bisa pelan-pelan mengatur lagi
jadwal tidurmu."
Bunda menimpali: "Kebosanan
itu bisa hilang kalau kita ciptakan suasana baru. Misalnya, bunda siapkan meja
belajar yang lebih rapi, atau kamu bisa pilih alat tulis baru yang kamu
suka."
Dengan cara ini, anak merasa
dipahami, bukan dihakimi. Mereka akan lebih mudah menerima perubahan.
Menciptakan
Suasana Baru
Suasana belajar yang segar bisa
membangkitkan semangat. Orang tua bisa menata ulang ruang belajar anak, memberi
perlengkapan baru, atau sekadar menambahkan hiasan yang membuat anak betah.
Hal-hal kecil seperti buku catatan baru, pena berwarna, atau poster motivasi
Islami bisa memberi energi positif.
Bunda berkata: "Nak, lihat
meja belajarmu sekarang. Bunda tambahkan lampu kecil supaya lebih terang. Kamu
juga punya buku catatan baru. Semoga ini membuatmu lebih semangat."
Anak tersenyum: "Wah, jadi
terasa beda, Bun. Aku jadi ingin segera menulis."
Menyisipkan
Waktu Bermain
Islam mengajarkan keseimbangan
antara belajar, ibadah, dan istirahat. Anak-anak tetap butuh bermain agar tidak
jenuh. Orang tua bisa menyisipkan waktu bermain setelah anak menyelesaikan
tugas sekolah. Dengan begitu, anak belajar disiplin sekaligus merasa senang.
Ayah berkata: "Kalau kamu
sudah selesai mengerjakan PR, ayah ajak main bola sebentar di halaman. Jadi
belajar tetap menyenangkan."
Anak menjawab dengan antusias: "Asyik,
Yah! Aku jadi semangat menyelesaikan PR."
Menjaga
Kesehatan dan Rutinitas Tidur
Semangat belajar tidak akan tumbuh
jika tubuh anak lelah. Orang tua harus memperhatikan kesehatan anak dengan
memastikan mereka tidur cukup, makan bergizi, dan tidak terlalu banyak bermain
gadget. Rutinitas tidur yang teratur akan membuat anak lebih segar saat bangun
pagi.
Bunda mengingatkan: "Nak,
mulai malam ini kita tidur lebih awal ya. Kalau kamu tidur jam sembilan, besok
pagi kamu akan bangun segar dan siap belajar."
Ayah menambahkan: "Ingat,
tubuhmu adalah amanah dari Allah. Menjaga kesehatan juga bagian dari
ibadah."
Motivasi
Tauhid: Belajar untuk Allah
Akhirnya, motivasi terbesar yang
harus ditanamkan adalah tauhid. Anak perlu diyakinkan bahwa belajar bukan
sekadar untuk dunia, tetapi untuk Allah. Dengan ilmu, mereka bisa menjadi
muslim yang bermanfaat bagi umat. Semangat belajar akan tumbuh jika anak merasa
bahwa setiap usaha kecilnya bernilai ibadah.
Ayah menutup percakapan dengan penuh
hikmah: "Nak, kalau kamu belajar karena Allah, maka setiap huruf yang
kamu baca akan bernilai pahala. Jangan takut bosan, karena Allah melihat
usahamu. Jadikan belajar sebagai jalan menuju surga."
Anak pun menjawab dengan mata
berbinar: "InsyaAllah, Yah. Aku akan belajar dengan semangat. Aku ingin
jadi muslim yang bermanfaat."
Penutup
Peran orang tua dalam mengembalikan
antusiasme belajar anak setelah liburan sangatlah besar. Dengan memahami
kebosanan anak, menciptakan suasana baru, menjaga kesehatan, serta menanamkan
motivasi tauhid, anak akan kembali bersemangat menghadapi sekolah. Belajar
bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi ibadah yang mulia. Ketika orang tua
dan anak bersama-sama menata niat, maka semangat belajar akan tumbuh kembali,
penuh cahaya, dan menginspirasi.
Sebagaimana ditegaskan oleh Anisa
Nur Azizah dkk. dalam Jurnal Kumara Cendekia (2022), serta oleh Nia
Lailin Nisfa dkk. dalam Jurnal Tinta Emas (2023), orang tua adalah pihak
utama yang membangkitkan motivasi belajar anak. Hal ini juga sejalan dengan
penelitian Rifa Shafira & Nur Asyiah dalam Jurnal Kreatif (2021)
yang menunjukkan bahwa peran orang tua sangat menentukan semangat belajar anak
di masa-masa sulit.
✍️ Penulis: Akhmad Yunus, M.Pd.I., Direktur Yayasan Al Iman Kebumen, Mengelolah Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen.


Post a Comment