Ketagihan Berbuat Baik
Para mujahid yang meninggal di medan
jihad, sebagaimana tafsir terhadap Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 169, memohon
kepada Allah ta’ala agar dihidupkan lagi. Bukan menyesal, justru mereka ingin
berperang dan mati syahid lagi. Ada semacam ketagihan di sini.
Ini memberikan gambaran bahwa
kebaikan itu bisa membuat orang ketagihan. Setelah satu kebaikan dilakukan,
seseorang ingin berbuat kebaikan lagi. Jika mungkin kebaikan itu lebih besar
ketimbang sebelumnya.
Sebagian orang memandang aneh
ketagihan jenis ini. Menurut mereka harusnya ketagihan itu pada hal-hal yang
enak. Sementara, masih menurut mereka, kebaikan itu tidak enak dan tidak ada
untungnya sama sekali.
Ada dua kutub yang berhadapan di
sini. Satu kutub diisi orang-orang ketagihan berbuat baik. Kutub lainnya diisi orang-orang
ketagihan bersuka ria dan tidak mau rugi.
Terjadinya dua kutub ini lumrah saja.
Karena dua kutub ini berakar pada dua jenis jiwa. Satunya jiwa yang cenderung
kepada kebaikan, sementara satunya lagi cenderung kepada keburukan.
Sebenarnya ada jenis jiwa ketiga,
jiwa yang labil. Jenis jiwa seperti ini kadang condong kepada kebaikan, kadang
keburukan. Belum terlihat arah ketagihannya, tergantung orang-orang sekitarnya, lebih ke arah baik atau sebaliknya.
Dalam hal ini Allah ta’ala berfirman
dalam Al-Qur’an surat Asy-Syams ayat 7-10, “Dan jiwa serta penyempurnaannya
(ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan
sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Oleh karena itu penting bagi setiap
insan mengenali kecenderungan jiwanya, ke arah kebaikan atau keburukan. Jika
jiwanya lebih suka berbuat buruk, hendaklah pintu taubat dituju. Adapun jika
jiwanya lebih suka berbuat baik, hendaklah kesyukuran dihaturkan. Berikutnya
jalan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dipilih.
Sejatinya tazkiyatun nafs bersifat
terpadu. Secara aqliyah, pemahaman dan prinsip berpikir benar dibangun,
menggantikan kesalahan-kesalahan. Secara qalbiyah, dzikir diistiqomahkan.
Secara amaliyah, kewajiban dilaksanakan, kehalalan diraih, sementara keharaman
dihindari.
Tidak bisa tazkiyatun nafs dilakukan
terpisah. Karena ketiganya saling mempengaruhi. Pikiran yang salah, misalkan,
akan memperlemah dzikir serta menurunkan semangat beramal.
Oleh karena itu hendaklah tazkiyatun
nafs dilakukan bersama. Agar ada saling jaga. Berbagai gangguan bisa
diantisipasi. Jika terjadi kekotoran pada jiwa, tindakan penyucian bisa segera
dilakukan.
Gangguan mencakup gangguan dari
dalam diri seperti hawa nafsu, sementara gangguan luar semisal setan serta
manusia. Terkadang gangguan itu datang sendiri-sendiri, kadang sinergi.
Contohnya setan yang kerap membakar hawa nafsu. Saat situasi ini terjadi, jiwa
bisa limbung. Kebersamaan dengan orang-orang shaleh diharapkan memberi pegangan
agar tidak jatuh terkapar.
Dengan menyucikan jiwa, arah yang dituju adalah kebaikan. Energi yang dimiliki juga untuk kebaikan. Kesukaan juga kebaikan. Di titik tertingginya, ketagihan hanya pada kebaikan.
Wallah a’lam.


Post a Comment