Didis adalah istilah orang Jawa, yaitu mencari kutu yang dilakukan oleh diri sendiri di kepalanya sendiri tanpa melihat alias dengan meraba-raba kepala untuk mencari kutu. Sebuah pekerjaan yang tentu tidaklah mudah karena mencari makhluk hidup di tengah-tengah ribuan rambut kepala diri sendiri tanpa melihatnya. Bisa dilakukan, namun kemungkinan mendapat kutunya kecil.
Yuuk cek di sini >> biaya masuk Sekolah Hidayatullah Yogyakarta Tahun 2026/2027
Lawan dari didis adalah petan, petan yaitu mencari kutu di kepala orang lain. Tentu si pencari kutu bisa melihat kepala dan jika memang ada kutu yang berlalu lalang di kepala orang lain, dia bisa melihatnya dan tentu akan dengan mudah menangkapnya, karena kutu kepala bisa terlihat pergerakannya.
Filosofis dari didis itu adalah mencari kesalahan diri sendiri atau instrospeksi diri. Sejatinya bisa dilakukan, namun tidaklah mudah untuk mencari kesalahan diri sendiri, karena kadang yang terlihat dalam diri kita sendiri adalah benar, benar, dan benar, serta selalu benar. Sulit dilakukan, karena diri sendiri terlalu egois untuk mengakui kesalahannya. Yang ada malah selalu merasa benar terhadap kelakuan diri sendiri.
Sedang filosofi dari petan adalah mencari kesalahan orang lain. Tentu ini sangat mudah dan gampang. lebih mudah dilakukan, karena memang mencari keburukan orang lain itu sangatlah mudah. Lebih mudah dari mencari keburukan sendiri. Bisa jadi sepuluh kesalahan orang lain bisa kita pilah dan pilih, namun belum tentu menemukan kesalahan diri sendiri.
Yuk, perbanyak didis alias banyak instrospeksi terhadap perilaku diri sendiri, bukan banyak berpetan alias mencari kesalahan dan kelemahan orang lain.
TMT
TMT


Post a Comment