Memberi Makan

Setiap sore bebek-bebek itu diberi makan pemiliknya. Sang pemilik terlihat senang saat bebek-bebek itu makan. Terpancar aura puas di wajahnya. Mungkin harapannya terpenuhi.

Baginya dan kebanyakan peternak bebek, lahapnya makan bebek memperbesar kemungkinan badan bebek akan semakin berat. Sehingga harga jualnya bisa lebih mahal ketimbang sebelumnya. Kantong sang peternak lebih tebal. Di sini ada keuntungan ekonomis.

Ada juga pemberi makan binatang tapi tidak dimaksudkan untuk ternak, lebih ke arah hiburan. Tujuannya bukan memperbesar badan binatang, tapi menjaga kesehatan. Suplemen makanan bisa jadi khas dan tidak sembarangan. Di sini ada keuntungan non-ekonomis, lebih mengarah ke arah kepuasan batin.

Selanjutnya, selain diberi kemuliaan Allah ta’ala untuk menjadi perantara makanan pada binatang, manusia juga menjadi perantara makanan kepada sesama manusia. Keluarga merupakan sasaran yang umum. Berikutnya kepada keluarga besar dan lingkungan sekitar.



Hal yang mungkin perlu diperdalam adalah motivasi dan harapan. Bisa jadi sebagian orangtua mengharapkan anak berkembang menuju keshalehan. Sehingga ada pahala mengalir kepada orangtua dari keshalehan anak. Apalagi ada doa-doa yang dipanjatkan untuk ampunan orangtua.

Orangtua juga tidak mengharapkan anak menjadi repot saat mereka menua. Orangtua sudah menyiapkan kesehatan dan dana agar relatif mandiri. Sehingga anak lebih leluasa mengembangkan dirinya.

Di sisi lain ada juga orangtua yang mengharapkan anak mau menanggung mereka saat mereka menua. Orangtua di posisi ini mungkin kesulitan dalam kemandirian finansial. Mau tidak mau, akhirnya mereka menumpukan masa tua kepada anak.

Orangtua di posisi ini tidak bisa disalahkan, apalagi di negara miskin dan berkembang. Situasi ekonomi makro menyulitkan para orangtua untuk membangun kemandirian finansial. Sehingga saat usia tua dan tidak produktif, mereka menyandarkan kepada anak.

Situasinya mungkin sedikit berbeda dengan negara maju. Ekonomi makro memungkinkan orangtua untuk merencanakan kemandirian finansial. Di usia tua mereka tidak kesulitan dan tidak menyandarkan kepada anak-anak.

Lebih luas tentang aktivitas memberi makan kepada sesama manusia adalah memberi makan mereka yang tidak mampu di lingkungan sekitar. Di aktivitas ini sejumlah motivasi ditemukan. Salah satunya mencari pendukung.

Sangat baik jika pendukung ini diarahkan kepada kebaikan. Sebaliknya sangat buruk bila pendukung ini diarahkan kepada keburukan. Dalam hal ini mereka yang memberi makan, hendaklah memahami bahwa aktivitas mereka sudah baik. Hendaklah tetap diarahkan ke arah kebaikan. Jika diarahkan pada keburukan, makanan yang mereka berikan bisa berubah fungsi, dari pengantar pahala menjadi pengantar dosa.

Lebih dalam, semoga semua pihak paham bahwa hakikat makanan berasal dari Allah ta’ala. Manusia, sebagaimana telah disampaikan, hanya perantara. Oleh karena itu hendaklah setiap manusia tawadhu kepada sesamanya, dan tadharru’ (tunduk) kepada-Nya.

Menariknya di firman pertama-Nya, Allah ta’ala mengenalkan dirinya sebagai pencipta, pemilik kemuliaan, dan pemberi ilmu. Tidak ada perkenalan sebagai pemberi rezeki. Perlu kiranya ada pencarian hikmah di sini.

"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Mulia. Dia telah mengajari manusia dengan pena. Dia telah mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahui manusia." (Terjemah Q.S. Al-'Alaq: 1-5)

Salah satu hikmah yang ditemukan adalah urgensi ilmu pengetahuan. Bahwa membagi ilmu merupakan satu kemuliaan tersendiri, yang berarti pemilik ilmu bukanlah sosok sembarangan. Sosok ini mulia.

Memberi makan adalah kebaikan, memberi ilmu adalah kemuliaan. Tidak perlu dipertentangkan mana yang paling bernilai. Keduanya bernilai, tergantung situasinya, mana yang lebih prioritas. Tentu lebih lengkap jika keduanya diberikan. Insya Allah, asal ada kemauan, keduanya bisa didermakan.

Satu poin yang kemudian perlu dicatat, pemberi lebih membutuhkan kebaikannya ketimbang penerima. Ia butuh kebaikannya diterima Allah ta’ala. Sehingga dianjurkan kepadanya untuk senantiasa semangat dalam keikhlasan tidak hingga. Semoga kelak balasan yang diterimanya juga tidak terbatas. 

Wallah a'lam. 


Powered by Blogger.
close