Menerima Tawaran ‘Israel’ Menampung Warga Gaza Bentuk “Kebodohan”


Dikutip dari media
Hidayatullah.com Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, dengan tegas menyatakan bahwa menerima tawaran ‘Israel’ untuk menampung warga Gaza yang terluka di Indonesia adalah sebuah “kebodohan.”

Pernyataan ini disampaikannya dalam acara “Head to Head with Elvira” di CNN Indonesia, menanggapi diskusi mengenai rencana pemerintah Indonesia untuk merawat 2.000 pasien dari Gaza di Pulau Galang.

Menurut Hikmahanto, rencana ini berisiko membuat Indonesia terperangkap dalam strategi ‘Israel’ untuk mengosongkan Gaza. “Jangan polos-polos saja,” katanya.

“Nanti orang bilang Indonesia antara naif sama bodoh sama saja.” Ia merujuk pada laporan dari media, termasuk BBC Indonesia, yang menyebutkan bahwa Perdana Menteri ‘Israel’, Benjamin Netanyahu, meminta Badan Intelijen Mossad untuk mempercepat pemindahan warga Gaza ke negara-negara yang telah sepakat.

Hikmahanto menegaskan, jika Indonesia menerima tawaran ini, pemerintah akan dituduh menjadi bagian dari agenda penjajah ‘Israel’.

Ia mempertanyakan logika di balik gagasan tersebut, terutama mengingat sejarah genosida dan pengusiran massal yang dilakukan ‘Israel’ terhadap warga Palestina di masa lalu.

“Masa tidak boleh rakyat Palestina sendiri yang memerintah Palestina, apalagi ada strategi seperti ini oleh Netanyahu dan Mossad,” ujarnya.

Pernyataan Hikmahanto ini muncul di tengah perdebatan sengit dengan narasumber lain. Diskusi memanas ketika Hikmahanto menuduh pihak lain memotong-motong pernyataan Netanyahu dan bersikeras bahwa ‘Israel’ adalah negara penjajah dan pembantai.

Pernyataan ini memicu respons emosional, termasuk seruan untuk perang, yang akhirnya membuat pembawa acara harus menunda siaran.

Senada dengan Hikmahanto, aktivis Indonesia yang tinggal di Gaza, Muhammad Hussein, mengkhawatirkan bahwa inisiatif kemanusiaan ini dapat menjadi bagian dari strategi ‘Israel’ untuk mengosongkan Gaza.

Menurutnya, jumlah 2.000 pasien yang akan dipindahkan akan jauh lebih besar karena setiap pasien kemungkinan akan didampingi oleh anggota keluarga mereka, yang rata-rata terdiri dari lima orang.

“Jadi, catat ya, bukan 2.000 yang akan datang, tapi bisa sampai 10.000,” ujar Husein.

Husen juga menekankan pentingnya belajar dari sejarah, merujuk pada peristiwa Nakba tahun 1948 di mana 800.000 warga Palestina diusir dengan janji akan kembali, namun pada akhirnya 0% dari mereka bisa pulang.

Hal serupa, katanya, terulang pada tahun 1967 dan 1973. Ia juga menyebutkan kasus 300.000 warga Gaza yang dievakuasi ke Mesir sejak 7 Oktober 2023, di mana hingga kini tidak ada yang kembali.

“Cukuplah menjadi bahan buat kita ke depan,” kata Husein. Ia memperingatkan bahwa dengan niat baiknya, Indonesia berisiko menjadi bagian dari proyek Zionisme yang bertujuan untuk mengosongkan Gaza dan menguasai seluruh wilayah Palestina.

Ia mengutip pernyataan Perdana Menteri ‘Israel’, Benjamin Netanyahu, yang mengatakan sangat termotivasi untuk melanjutkan “misi Israel Raya”, yaitu menguasai seluruh wilayah Palestina, Yordania, dan Mesir.

Profesor Hikmahanto mengutip laporan dari media yang menyebutkan keterlibatan Mossad dalam negosiasi pemindahan warga Gaza ke negara lain, yang menurutnya adalah bukti nyata strategi penjajah.

Hikmahanto menuduh ‘Israel’ sebagai “negara penjajah” dan “pembantai,” yang pada akhirnya membuat pembawa acara harus menghentikan siaran sejenak.*


Powered by Blogger.
close