Menguatkan Komunikasi Interpersonal dengan Reseptif Berbasis Empati
Bermain balok perlu memperhatikan beberapa hal agar imajinasi dapat terwujud, khususnya menyusun bangunan tinggi. Selain kekuatan dan presisi ukuran balok, teknik bermain tidak bisa disepelekan. Salah satunya menentukan titik tumpu.
Apabila titik tumpunya tepat, maka antarkeping balok bisa disusun vertikal lumayan tinggi. Sebaliknya apabila titik tumpunya kurang pas, antarkeping balok sulit disusun vertikal. Bahkan sangat mungkin keping-keping balok gagal dibangun, bolak-balik roboh.
Demikian pula dalam hal membangun komunikasi interpersonal. Titik tumpunya perlu tepat. Sehingga komunikasi interpersonal kuat, menciptakan rasa nyaman.
Ada banyak perspektif yang bisa digunakan untuk mengajukan satu unsur komunikasi sebagai titik tumpu komunikasi interpersonal. Akan tetapi mungkin reseptif berbasis empati akan lebih mudah disepakati sebagai hal paling penting dalam komunikasi interpersonal. Paling tidak, unsur kognitif dan afektif keduanya hadir sekaligus saling menguatkan.
Sebenarnya reseptif sendiri sebagai aktivitas kognitif sudah mencukupi untuk menyerap dan merespon pesan dalam komunikasi interpersonal. Akan tetapi tanpa empati, respon yang diberikan kadang kurang pas. Sehingga komunikasi baru berhasil dalam bertukar pesan, belum sampai pada jalinan emosional positif antarorang.
Demikian juga empati sudah mencukupi dalam komunikasi interpersonal. Karena pemberi pesan berusaha didengarkan dan dipahami. Akan tetapi kadang pesan tidak dipahami dengan bulat. Sehingga respon tidak sepenuhnya tepat. Alhasil komunikasi yang dilakukan tidak sepenuhnya mencapai target.
Saat ini kemampuan komunikasi interpersonal yang efektif semakin penting. Karena dunia semakin padat dengan lalu lintas pesan, lisan ataupun tertulis. Semoga reseptif berbasis empati, sebagaimana telah disampaikan, membantu terbentuknya jalinan sosial sekaligus kecerdasan kolektif yang kokoh.
Sudah bukan waktunya untuk setiap orang menonjolkan dirinya sendiri. Dunia saat ini lebih banyak dibangun di atas kolaborasi. Menonjolkan diri sendiri akan berujung pada alienasi yang dibuat sendiri. Akibatnya lingkar hidupnya jadi sangat sempit.
Lebih jauh, marilah membincangkan keterampilan praktis seputar reseptif dan empati. Reseptif ditampilkan sekaligus dikuatkan melalui pertanyaan konfirmatif. Sehingga pesan semakin jelas dipahami. Sementara empati ditampilkan dengan ekspresi yang proporsional, sesuai situasi dan kondisi.
Uraian tersebut berlaku untuk percakapan lisan ataupun tertulis. Jangan ragu untuk bertanya konfirmatif. Semoga kesalahan pemahaman tidak terjadi.
Demikian juga ekspresi empati. Mantapkan diri untuk menunjukkannya. Di perbincangan lisan, bahasa tubuh jadi wujudnya. Sedangkan di perbincangan tertulis, emoticon pilihan utamanya. Meme juga boleh sesekali. Agar hidup semakin berwarna.
Wallahu a'lam.



Post a Comment