Dear Leaders, Yuk Kurangi Baper...
Baper akronim dari bawa perasaan. Ungkapan gaul ini digunakan untuk menunjukkan respon berlebihan seseorang atas sesuatu karena melibatkan emosi. Ini terlihat dari mimik wajah, nada bicara, ataupun kata-kata yang diucapkan.
Secara umum, baper tidak salah. Bagaimanapun manusia punya emosi. Hanya saja ada situasi-situasi yang butuh disikapi tenang. Objektivitas tetap dijaga. Yaps, salah satunya di kumpulan orang semisal tempat kerja.
Dengan objektivitas yang terjaga, situasi dapat ditimbang untuk ditingkatkan jauh lebih baik. Berbeda apabila ada baper, situasi sesungguhnya kurang dapat digambar. Akan tetapi konflik antarorang sudah menyala di situ. Akhirnya susah kondusivitas tergapai.
Situasinya semakin tidak kondusif bila pimpinan yang baper. Bawaannya marah-marah melulu, kata Gen Z. Di sisi lain sulit juga ditangkap arahan yang diberikan. Langit terasa buram.
Situasinya jauh beda saat pimpinan menjaga objektivitas (walaupun sedikit baper, boleh ya, manusiawi). Pimpinan bisa menggambarkan situasinya dengan relatif terang. Arahannya juga dapat ditangkap oleh para staf.
Satu saran agar pimpinan tidak baper: Minimalkan proyeksi atau narasi diri lewat pekerjaan.
Bagaimanapun pekerjaan hanya sebagian dari sisi hidup manusia. Menjadikannya sebagai tempat bernarasi bisa mereduksi diri sendiri. Apalagi kerjanya bersifat tim. Situasinya semakin rumit.
Alih-alih bernarasi tentang diri sendiri, jauh lebih baik untuk menarasikan tim. Angkatlah tim ke permukaan. Sukses atau kurang suksesnya suatu pekerjaan itu dipengaruhi kerja tim.
Sebisa mungkin, hindari memasukkan selera pribadi pada kerja tim. Hal ini akan membuat sebagian diri terbawa pada pekerjaan. Potensi baper mulai tertanam, next bisa berkecambah serta tumbuh terus-menerus.
Saat sukses atau gagal, baper sedikit banyak sangat mungkin terlihat. Egosentris mewabah. Kompaknya tim jadi lemah, berganti pada tergantung satu figur.
Apabila satu standar butuh ditetapkan dan diterapkan, maka bangunlah di atas kebersamaan tim. Diskusi dan musyawarah dibuka. Adu argumentasi sekaligus saling menguatkan opini terbangun. Semoga tim semakin kuat.
Buat juga satu mekanisme kerja untuk mengakomodasi tim. Tidak perlu pimpinan selalu mencolok. Bahkan jika mungkin, berikan ruang untuk para staf menggali betul potensi mereka sekaligus tampil di publik. Seorang CEO pernah berujar tentang staf-stafnya, "Biarkan mereka jadi pahlawan."
Harus diakui, beberapa pimpinan masih memendam harapan untuk citra dirinya dikenal. Bahkan publik diharapkan mengagumi mereka. Mereka jadi bintang, bahkan mega bintang.
Masalahnya harapan sejenis itu, bila ditelusuri lebih dalam, berasal salah satunya dari inferioritas. Rasa minder begitu akut, lalu secara tidak sadar berusaha dilawan. Akhirnya terjadilah sejumlah tindakan yang sulit terpisahkan dari hal-hal semacam baper dan egosentris.
Di sinilah ujian seorang pimpinan, selesaikah ia memimpin dirinya sendiri. Pengenalan atas dirinya diharapkan utuh. Sehingga ia bisa menjalin situasi dalam diri dengan lingkungannya.
Semoga ke depan, baper berkurang ya. Bagaimanapun leader itu diharapkan jadi episentrum inspirasi kebaikan-kebaikan. Itu terjadi bila baper minim. Maksi-nya pada kebersamaan tim yang mendewasan dan saling menguatkan.
Wallah a'lam.


.jpeg)

Post a Comment