Belajar Membangun Sistem (Pesan bagi Pekerja agar Karirnya Terus Tumbuh)

Menarik sekali cuitan Bang Iril Rahman tanggal 1 Agustus 2026. Dia menyampaikan, "Di tempat kerja ada satu pemandangan ironis yang sering banget keulang: Ada staf yang tiap hari lembur, chat liburan tetep dibales, semua tugas ditumpuk ke dia sampai mukanya keliatan kusam dan stres berat; tapi pas ada posisi team lead atau manager kosong, bukan dia yang dipromosiin."

Lalu Bang Iril Rahman menyampaikan tiga solusi. Salah satunya, "Bangun sistem yang bisa jalan tanpa lo. Promosi itu terjadi pas lo bisa ngebuktiin kalo posisi lo yang sekarang udah terkontrol rapi oleh sistem."


Yaps, sistem kata kuncinya. Bahwa seorang staf di tempat kerja diharapkan punya sistem kerja. Sehingga ketika aktif seperti biasa, ia menuntaskan tugasnya dengan baik. Sedangkan saat ia berhalangan, rekan lainnya bisa menggantikan sementara tanpa gangguan sistemik.

Staf seperti ini berkemungkinan besar memiliki karir yang terus berkelanjutan. Syaratnya, tentu saja, ada keadilan yang terjaga baik. Politik kantor tidak terlalu mendominasi.

Itu tadi pentingnya sistem kerja untuk staf. Bagaimana untuk pemimpin tim? Jawabannya, jauh lebih penting.

Bahwa ukuran kinerja pemimpin itu bukan pada kesibukannya, tapi pada ketuntasan kerja dan dampak kinerja timnya. Di sini ada bincangan tentang sistem jadi sangat penting. Setiap pemimpin sangat diharapkan paham.

Mari menguraikannya.

Sistem kerja yang dibangun pemimpin musti bisa menggerakkan staf secara efektif. Indikator terpentingnya adalah staf mampu mengerjakan tugasnya secara mandiri. Staf tidak perlu menunggu arahan harian sang pemimpin. Seluruh alur dan prosedur kerja dikuasai staf dengan baik.

Selain itu, staf memiliki kapasitas dalam memecahkan sebagian besar masalah di seputaran tugasnya. Staf telah dibekali pengetahuan yang utuh tentang area tugasnya. Machine learning dipahami betul oleh staf. Apabila masih terjadi konsultasi dengan sang pemimpin, sifatnya konfirmasi dan afirmasi saja.

Dapat dipahami secara implisit bahwa sang pemimpin benar-benar mengedukasi staf dengan tuntas. Hulu ke hilir tentang aktivitas pekerjaan benar-benar dibagikan kepada staf. Bahkan sangat mungkin sang pemimpin memberikan prinsip-prinsip filosofis kepada staf.

Sebagai reviu pemahaman, staf diuji oleh sang pemimpin. Tidak cukup sekali, staf mungkin diuji beberapa kali. Sejumlah tahapan juga dilalui. Semoga kematangan staf terbentuk.

Uniknya lagi sang pemimpin tidak bergerak sendiri dalam mengedukasi staf. Staf yang lebih dulu bekerja, istilahnya staf senior, dilibatkan. Sehingga interaksi antarstaf diharapkan suportif dan apresiatif, jauh dari toksik.

Harus diakui satu hal, yakni adanya kemungkinan staf menjadikan tempat kerja saat ini sebagai batu loncatan saja. Tidak ada jaminan untuk staf langgeng. Mungkin setahun dua tahun berikutnya staf akan pindah.

Kekhawatiran sejenis ini tidak patut untuk diremehkan, tapi juga tidak perlu disikapi berlebihan. Karena setiap orang punya pilihan, apalagi bertambah usia serta kematangan berpikirnya. Setiap orang juga pula jalan hidup masing-masing. Kesemuanya itu memberikan pengaruh yang tidak sederhana. Sehingga keterbukaan jadi opsi yang butuh dikedepankan.

Pemimpin dan staf diharapkan komunikatif. Hal-hal yang kiranya bisa dibicarakan semoga tidak disimpan dalam benak belaka. Akan tetapi perlahan ada bincangan.

Di sini memang dituntut sikap legowo pemimpin. Hendaklah sang pemimpin tidak reaktif. Alih-alih seperti itu, jauh lebih baik bila sang pemimpin proaktif.

Catatannya, dengan proaktif, tidak mesti sang pemimpin meleburkan semua batas. Bagus saja batas formal dijaga. Yang penting adalah segala hal yang mempengaruhi aktivitas pekerjaan diketahui dua pihak, sang pemimpin dan staf.

Semoga tim seperti ini memberikan nuansa kekeluargaan tanpa kehilangan profesionalitas serta proporsionalitas. Perasaan bahagia terasa. Di saat bersamaan produktivitas terjaga.

Bahkan seiring waktu pengembangan diri semakin terlihat wujudnya. Setiap orang, tidak peduli pemimpin ataupun staf, semakin baik di setiap sisi kehidupan. Mereka jadi sumber inspirasi bagi orang-orang sekitarnya. Kenyamanan dan kebaikan begitu terasakan.

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close