Singkirkan Semua Mainan Mereka

Selama tiga bulan, para orang tua marah. Para guru menganggapnya tindakan yang nekat. Namun, apa yang terjadi setelahnya mengubah cara banyak pakar memandang dunia bermain anak. 

Selama ini kita percaya bahwa semakin banyak mainan, semakin bahagia masa kecil seorang anak. Namun, bagaimana jika kenyataannya justru sebaliknya? Bagaimana jika limpahan mainan tanpa batas diam-diam mengajarkan anak untuk kehilangan kemampuan fokus? 

Pada tahun 1992, dua dokter anak dari Jerman mengosongkan seluruh isi sebuah taman kanak-kanak. Tidak ada boneka. Tidak ada balok susun. Tidak ada puzzle. Tidak ada rak penuh mainan. Yang tersisa hanyalah anak-anak, kursi, meja, selimut, dan ruang kosong. Eksperimen itu kemudian dikenal sebagai "Toy-Free Kindergarten" (TK Bebas dari Mainan). 

Minggu pertama terasa sangat berat. Anak-anak menangis. Mereka mengeluh. Mereka merasa bosan. Perselisihan pun muncul, bahkan hanya karena memperebutkan kursi dan selimut. 

Bagi banyak orang, mungkin mereka sudah menghentikan eksperimen seperti ini saat itu juga. 

Namun kemudian, sesuatu yang tak terduga terjadi. Ketika mainan menghilang, teman-teman mereka menjadi sumber kesenangan. Mereka lebih banyak berbicara. Lebih sering bernegosiasi. Dan lebih mampu menyelesaikan masalah bersama. 

Memasuki minggu ketiga, suasana kelas berubah sepenuhnya. Sebuah kursi berubah menjadi kapal bajak laut. Selimut menjadi gua rahasia. Meja menjelma kastel megah. 

Tak ada yang berubah, kecuali imajinasi anak-anak yang kini berkembang tanpa batas. 

Di sinilah letak pelajaran yang sangat berharga. Kreativitas jarang tumbuh dari kelimpahan. Ia justru berkembang ketika ada keterbatasan. Saat segala sesuatu tersedia, imajinasi menjadi pilihan. Namun ketika sumber daya terbatas, pikiran mulai menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru. 

Beberapa tahun kemudian, penelitian lain menemukan hasil yang serupa. Para peneliti membandingkan balita yang bermain dengan 4 mainan dan 16 mainan. Anak-anak yang hanya memiliki 4 mainan:
• Bermain jauh lebih lama.
• Mengeksplorasi setiap mainan lebih mendalam.
• Menunjukkan perilaku yang jauh lebih kreatif. 

Ternyata, semakin banyak pilihan tidak selalu menghasilkan permainan yang lebih baik. Terlalu banyak mainan dapat membiasakan anak terus mencari sesuatu yang baru. Sebaliknya, jumlah mainan yang lebih sedikit mendorong mereka bertanya, "Apa lagi yang bisa kulakukan dengan benda ini?" 

Dan dari pertanyaan sederhana itulah kreativitas mulai tumbuh. 

Tujuan kita bukan membesarkan anak yang selalu membutuhkan rangsangan baru. Mereka bergerak hanya ketika disibukkan. Hanya menjadi konsumen. 

Tujuan kita adalah membesarkan anak yang mampu melahirkan ide-ide luar biasa dari hal-hal yang sederhana. Kaya inisiatif, memiliki daya cipta. 

Konsumen menunggu hiburan. Mereka yang memiliki daya cipta, menciptakan peluang. Menciptakan kegiatan. Mereka memiliki gagasan dan inisiatif. 

Cobalah menerapkannya di rumah. Simpan sekitar 90% mainan anak. Sisakan hanya 4–6 mainan terbuka (open-ended), misalnya:
• Balok susun
• Satu boneka atau action figure
• Satu boneka kain atau boneka favorit
• Peralatan menggambar Kemudian, gantilah beberapa mainan setiap dua minggu.

Banyak orang tua terkejut ketika melihat mainan lama kembali menjadi favorit. Bukan karena mainannya berubah. Tetapi karena anaknya yang telah berkembang. 

Mungkin hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada anak bukanlah mainan baru. Melainkan ruang yang cukup, waktu yang cukup... sedikit rasa bosan... dan KEHADIRAN KITA agar imajinasi mereka memiliki kesempatan untuk bangun. 

Menurut Anda, apakah anak-anak zaman sekarang memiliki terlalu banyak mainan, atau justru terlalu sedikit kesempatan untuk berimajinasi? Bagikan pendapat Anda.

Powered by Blogger.
close