Budaya Kerja untuk Eksplorasi Diri Pekerja Pemula
Salah satu karunia sekaligus tantangan untuk pimpinan tempat kerja adalah pekerja pemula berusia muda. Energi dan potensinya relatif besar. Pengetahuan dan keterampilannya juga seringkali hebat. Akan tetapi pemahaman terhadap budaya setempat masih minim.
Dengan demikian seorang pekerja pemula perlu dididik dan didampingi oleh pimpinan tempat kerja. Tentu saja pendampingan tidak harus langsung. Akan tetapi sang pimpinan bisa mendelegasikan tugas pendampingan kepada staf senior.
Harapannya seorang pekerja pemula bisa cepat memahami berbagai hal di tempat kerja. Prosedur dan budaya kerja merupakan dua di antaranya. Setelah itu, dikenalkan juga jaringan antarunit kerja dan hal lainnya.
Semoga dengan pendampingan yang bertahap seperti itu, seorang pekerja pemula berkemampuan untuk membangun pemahaman secara utuh. Bukan hanya tentang tempat kerjanya, bahkan sang pekerja pemula memahami luasnya dunia kerja. Berikutnya ia mampu berkontribusi secara baik di dunia kerja. Sebagai imbalannya, ia mendapatkan aneka insentif untuk menghidupi diri dan keluarganya.
Sejumlah tempat kerja terlihat ragu untuk mendidik dan mendampingi pekerja pemula secara all out. Ada ketakutan bahwa sang pekerja pemula hanya 'loncat', tidak sungguh-sungguh membangun bekerja apalagi berkarir. Sehingga terjadilah masa percobaan yang lama serta pemberian pengetahuan sedikit demi sedikit.
Ketakutan ini perlu dimaklumi. Kelelahan yang dialami pimpinan dan staf senior dalam mendampingi pekerja pemula itu nyata adanya. Sumber daya yang digunakan juga terhitung besar.
Di sisi lain ada satu hal yang penting untuk dipertimbangkan sang pimpinan: Kegesitan kerja (agility). Semakin bagus pemahaman dan keterampilan para pekerja, maka kegesitan kerja semakin mungkin terjadi. Pengguna (konsumen dan pelanggan) hampir bisa dipastikan merasa puas.
Para pekerja sebagaimana disebutkan tentu saja mencakup semua pekerja, senior atau yunior, lama atau pemula. Oleh karena itu pekerja pemula juga butuh dididik dan dilatih sebaik mungkin. Mengabaikan pekerja pemula beresiko lemahnya kegesitan kerja secara keseluruhan.
Mungkin sebuah jalan tengah bisa diusulkan. Pekerja pemula tidak diguyur pengetahuan dan keterampilan yang melimpah namun tidak juga diabaikan. Dalam hal ini ada seperangkat perencanaan untuk para pekerja, sifatnya bertahap, dari masa kerja nol hingga setahun dan seterusnya.
Hasilnya pengetahuan dan keterampilan bersifat selektif. Implementasinya kemudian diharapkan efektif. Selain itu ada keselarasan antara senioritas dengan kapasitas. Semakin senior seorang pekerja, kapasitas keilmuan dan keterampilannya semakin bisa diandalkan.
Satu catatan lantas hadir. Bahwa pentahapan pengetahuan dan keterampilan, sebagaimana telah diuraikan, butuh hidupnya budaya belajar. Pada siapa? Pimpinan itu nomor satu. Ia diharapkan jadi teladan. Berikutnya staf senior di bawahnya lalu di bawahnya dan seterusnya.
Tidak harus kemudian seorang pimpinan berada di posisi teratas dalam hasil belajar. Karena budaya belajar bukan tentang kompetisi, tapi lebih banyak kolaborasi. Bidang yang dipelajari juga tidak konvergen, apalagi tunggal. Akan tetapi sifatnya konvergen, lintas, dan saling topang.
Catatan lain yang sifatnya derivatif adalah budaya terbuka. Bahwa orang-orang di tempat kerja, satu sama lain itu satu ekosistem. Kesemuanya saling terhubung dan mengisi.
Sebuah platform bersama sangat bagus jika diadakan dan dirawat berkesinambungan. Agar hasil belajar bisa dikomunikasikan kepada seluruh orang di tempat kerja. Tidak satu arah, tapi komunikasi bersifat dua arah.
Satu pihak menyampaikan hasil belajar. Pihak lain menanggapi. Pihak lainnya lagi memperkaya. Sahut-menyahut yang berbobot berlangsung.
Harus diakui sahut-menyahut sejenis itu tidak mudah terjadi. Semangat belajar butuh hidup pada diri pimpinan tempat kerja. Ini bahan bakar agar budaya belajar dan terbuka mampu bertahan.
Apabila budaya belajar dan terbuka terus menyelimuti satu tempat kerja, semoga para pekerja pemula memiliki banyak peluang untuk ikut belajar banyak hal. Berikutnya tinggal ia memilih, apakah belajar mandiri atau melalui mentoring. Bahkan berikutnya ia bisa memilih, mungkin istiqomah di tempat kerjanya dari awal bekerja, mungkin juga berpindah.
Apapun pilihannya, ia telah punya budaya dalam dirinya: Kontributif.
Wallah a'lam.

.jpeg)

Post a Comment