Reinforcement, Bukan Apresiasi
Oleh Mohammad Fauzil Adhim
Banyak kepala sekolah menjadi bingung karena kata reinforcement sering langsung diterjemahkan sebagai: hadiah, pujian, penghargaan, bonus, sertifikat, guru teladan.
Padahal dalam teori perilaku, organisasi, maupun manajemen perubahan budaya, reinforcement tidak identik dengan hadiah.
Ini kesalahpahaman yang sangat umum. Bahkan dalam konteks profesionalisme guru, ada perilaku-perilaku yang memang tidak tepat jika terus-menerus diberi hadiah.
Lalu, apa itu reinforcement yang sesungguhnya? Dalam konteks perubahan budaya sekolah, reinforcement adalah segala tindakan yang membuat perilaku yang diinginkan menjadi lebih mungkin untuk terus terjadi.
Jadi, tidak identik dengan hadiah, bonus, apresiasi, penghargaan.
Tanpa hadiah, bagaimana disebut reinforcement?
Contohnya begini. Saya pernah memberikan training 4 kali sebulan di sebuah sekolah. Training berlangsung jam 06:30 - 17:00. Jam 06:30 tepat training dimulai meskipun yang hadir baru 30%. Ini merupakan reinforcement kepada yang sudah hadir tepat waktu. Tanpa hadiah, mereka memperoleh penguatan.
Rapat dijadwalkan pukul 07.00. Tetapi baru mulai pukul 07.20. Mengapa? Menunggu guru yang terlambat. Artinya, sekolah sedang memberikan reinforcement kepada keterlambatan.
Pesan budayanya: "Tidak apa-apa terlambat. Nanti juga ditunggu." Hari ini rapat terlambat 20 menit, 6 bulan lagi minimal terlambat 50 menit. Budaya sekolah rusak karena keterlambatan mendapatkan reinforcement dari sekolah.
Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator Parenting Indonesia


Post a Comment