Menghadirkan Ruang Aman untuk Bertanya
Di sebuah forum, kecil atau besar, masih ditemukan jarangnya orang bertanya. Ada semacam kekhawatiran bahkan ketakutan bahwa pertanyaan yang akan diajukan tidaklah bermutu. Kekhawatiran lainnya pada sisi penyampaian, jangan-jangan cara menyampaikan pertanyaan jauh dari standar baik.
Di interaksi dan aktivitas harian, ketakutan bertanya juga kerapkali muncul. Bukan hanya pada anak-anak, ketakutan bertanya juga bisa menimpa orang dewasa. Pertanyaan sudah ada, keberanian sudah mulai dikumpulkan, tapi entah mengapa kemudian bibir tak bisa bergerak.
Akibatnya pertanyaan tertumpuk. Di sisi lain, komunikasi tidak jalan. Bahkan di aktivitas pekerjaan, koordinasi menjadi macet. Dampaknya bisa kemana-mana. Banyak orang tertimpa.
Di sini tampak sebuah kebutuhan, yakni hadirnya ruang aman untuk bertanya. Diri sendiri berani menyampaikan pertanyaan, juga gagasan. Di saat yang sama, ada keterbukaan untuk menerima pertanyaan dari orang lain.
Menumbuhkan Ruang Aman untuk Diri Sendiri
Sebagaimana telah disampaikan, paling tidak ada dua konteks tentang keberanian bertanya. Pertama, bertanya di forum. Situasinya massal, banyak orang. Kedua, bertanya di aktivitas harian. Sifatnya individual, one by one.
Sekilas keduanya punya kebutuhan yang beda. Benar, memang ada beberapa detail yang beda. Akan tetapi, tetap ada satu hal mendasar yang sama: Tujuan bertanya.
Sebagian orang bertanya untuk mendapatkan spotlight. Sehingga kadang terlihat caranya menyampaikan itu ruwet, sedangkan isi pertanyaannya sendiri hampir tiada bobot. Ciri yang paling mudah diamati adalah panjangnya penyampaian, bahkan bertele-tele.
Sehubungan dengan itu, kiranya tidak perlu memaksakan diri untuk bertanya. Bila tidak ada yang ingin ditanyakan, tetap diam itu sikap yang baik. Menguatkan pengamatan atas situasi yang berlangsung justru jauh lebih penting. Semoga pemahaman terhadap situasi meningkat, disusul dengan konstruksi berpikir yang semakin kokoh.
Bagaimana jika ada yang ingin ditanyakan namun enggan untuk disampaikan? Selancar di dunia maya mungkin jawaban terbaiknya. Kumpulkan sebanyak mungkin informasi, lalu konfrontir satu informasi dengan lainnya. Sehingga informasi akurat didapatkan.
Apabila pertanyaan memang butuh disampaikan, maka dua opsi tersedia, yakni bertanya langsung atau menitipkan kepada teman. Bertanya langsung memerlukan energi mental, tapi pertanyaan bisa langsung disampaikan dan mendapat respon. Menitipkan pertanyaan lewat teman berkemungkinan menunda pertanyaan tersampaikan, begitu juga responnya. Bahkan resiko distorsi informasi sangat terbuka.
Di situasi yang seperti ini, bertanyalah. Agar tidak terjadi distorsi. Resikonya bisa mengenai diri sendiri dan berkepanjangan.
Apabila dirasa nanti bakal lelah setelah bertanya, istirahatlah. Atur nafas. Atur kenyamanan diri. Hindari kekhawatiran bahwa spotlight terlalu terang menyorot. Berdoa saja spotlight akan memudar segera.
Merasa cara bicara tidak menarik? Terkecuali berprofesi sebagai pembicara atau pejabat, cara bicara ditumbuhkan alamiah saja. Justru cara bicara yang asli sesuai karakter diri lebih berkemungkinan mampu menyampaikan pesan, ketimbang cara bicara yang dibuat-buat.
Akan tetapi mengikuti kelas public speaking bukan pilihan buruk. Bagaimanapun keterampilan bicara sangat membantu kelancaran aktivitas. Selain itu, siapa tahu Allah ta'ala amanahkan jabatan yang lebih tinggi ketimbang saat ini, public speaking akan menunjang sekali.
Menumbuhkan Ruang Aman untuk Orang Lain
Ada orang yang bisa membuat nyaman orang lain saat berdekatan. Sebaliknya ada orang yang sulit menimbulkan rasa nyaman. Setelah ditelisik, salah satunya karena penerimaan dan respon yang relevan.
Penerimaan ditunjukkan dengan kesiapan mendengar. Wajah bahkan seluruh badan berfokus pada orang lain yang sedang bicara. Tidak ada interupsi, kecuali untuk kepentingan konfirmasi.
Setelah itu respon relevan dilakukan. Mungkin sekedar doa dipanjatkan. Mungkin pendalaman masalah bersama. Jarang sekali solusi langsung dimunculkan, agar masalah bisa jadi momen pembelajaran bersama.
Tidak ada bully, caci maki, ataupun kata-kata lain yang merendahkan. Adanya hanya kata positif, disertai dengan sedikit candaan. Agar situasi cair.
Bagaimana jika sedang berforum? Selain penerimaan dan respon positif, orang yang terbuka akan mengucapkan terima kasih setelah ada pertanyaan dari orang lain. Baginya pertanyaan bahkan kritik dan sanggahan merupakan bukti perhatian kepada dirinya.
Memang tidak mudah menerima kritik dan sanggahan orang lain. Latihan diperlukan, baik lahir ataupun batin. Latihan lahirnya pada ekspresi wajah dan badan yang tetap tenang. Sementara latihan batin pada baik sangka alias pikiran positif.
Waktu berlatih tentu tidak harian, mungkin bulanan bahkan tahunan. Dengan konsisten, semoga latihan menunjukkan hasil yang terus bertumbuh. Jadilah ia sosok yang berkontribusi dalam menciptakan suasana aman dan nyaman.
Hati-hati Pertanyaan Basa-basi
Benar sekali, seiring isu kesehatan mental yang semakin mencuat, pertanyaan basa-basi perlu disusun lebih hati-hati. Agar tidak ada hati tersinggung. Terjagalah hubungan baik.
Alih-alih bertanya, jauh lebih baik jika basa-basi diisi dengan ungkapan syukur dan doa. Misalkan, "Alhamdulillah ketemuan lagi pagi ini. Sehat-sehat ya."
Semoga ungkapan syukur dan doa, tidak hanya menjaga hubungan baik, tapi juga mengikatkan persaudaraan dalam pertolongan Allah ta'ala. Sehingga perkataan akan lebih leluasa disampaikan dalam berbagai situasi. Kebaikan yang dirasakan terus bersambung ke akhirat.
Wallah a'lam.





Post a Comment