Hikayat Para Keledai

Oleh Fathul Wahid

Jumat lalu (5/6/2026) saya berkesempatan menghadiri acara aksi Ibu Berisik di Bunderan UGM. Saya yang awalnya hanya memantau dari jauh, ketahuan, dan diminta memberikan orasi. Akhirnya saya membacakan hikayat para keledai. Hikayat ringkas ini terinspirasi oleh Animal Farm-nya Orwell dan juga Musyawarah Burung-nya Fariduddin Attar.

HIKAYAT PARA KELEDAI

Berkumpullah para keledai di balai besar, lengkap dengan spanduk: "Mendengar Aspirasi Semua Pihak."

Di depan pintu dipasang kotak saran, yang setiap sore dikosongkan langsung ke tempat sampah.

Seekor pipit datang membawa kabar: "Wahai para keledai, jembatan di depan retak."

Ketua keledai mengangguk bijak. "Terima kasih atas masukannya. Kami sangat terbuka terhadap kritik."

Lalu ia membentuk Panitia Kajian Keretakan Jembatan dan Satuan Reformasi Teknologi Retakan. Sementara itu retakan jembatan semakin besar.

Sebulan kemudian datang seekor kambing. "Wahai para keledai, jembatan itu sudah hampir roboh."

Para keledai segera menggelar konferensi pers. "Kami mengapresiasi perhatian masyarakat. Namun jangan membesar-besarkan retakan kecil."

Mereka lalu memasang baliho raksasa bertuliskan: "JEMBATAN DALAM KONDISI TERBAIK SEPANJANG SEJARAH."

Tak lama kemudian jembatan ambruk. Rombongan keledai akhirnya tercebur ke sungai. Seekor keledai muda yang sejak awal mengingatkan berkata, "Saya sudah bilang..." Namun sebelum kalimatnya selesai, ia dituduh merusak optimisme.

Di tengah arus yang deras, ketua keledai tetap sempat berpidato: "Yang terhormat para hadirin, ambruknya jembatan ini membuktikan bahwa jembatan memang ada." Para keledai bertepuk tangan.

Air sungai sudah mencapai leher mereka, tetapi tepuk tangan tidak berhenti. Sebab dalam tradisi para keledai, kesalahan bukanlah sesuatu yang harus diperbaiki. Kesalahan adalah sesuatu yang harus dirayakan dengan slogan baru, panitia baru, dan pidato yang lebih panjang.

Maka tenggelamlah mereka perlahan. Sambil tenggelam, mereka masih sempat berseru: "Semua terkendali!"

Begitulah. Di negeri para keledai, kenyataan yang paling berbahaya bukanlah jurang, melainkan kebiasaan menganggap kritik sebagai musuh, dan pujian sebagai bukti kebenaran.

Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia Periode 2018 - 2026

Powered by Blogger.
close