Merintis Jalan Uzlah dengan Gadget
Handphone dan gadget lainnya memudahkan setiap orang untuk menyendiri sekarang ini. Tidak sekedar di ruang tertutup, menyendiri juga bisa dilakukan di ruang terbuka semisal mojok di taman. Dengan lapisan tertentu di layar gadget yang membuatnya hanya bisa ditonton dalam posisi tegak lurus, jadilah sudah menyendiri dilakukan.
Dahulu para ulama tasawuf, contohnya Al-Ghazali, sangat mengajarkan supaya seorang muslim memiliki waktu khusus untuk menyendiri (uzlah). Tujuannya jelas, semoga jadi momen perenungan diri. Selanjutnya istighfar dan taubat dilakukan. Bersihlah ia dari dosa-dosa.
Saat kembali kepada khalayak ramai, seseorang yang bersih dari dosa-dosa akan cenderung membawa manfaat. Pergaulan dengannya mengingatkan akan kebaikan-kebaikan. Sedangkan jauh darinya melahirkan kerinduan.
Nah, sebenarnya gadget dengan kesendirian pemakainya membuka peluang pembersihan diri sebagaimana diajarkan para ulama tasawuf, yakni bagaimana gadget mengantarkan pada istighfar dan taubat. Tantangannya kemudian adalah mindset tentang gadget. Bisa jadi unsur entertainment lebih mengemuka ketimbang edukasi.
Unsur entertainment sendiri bersifat luas. Sebagiannya halal, sebagiannya syubhat, dan lainnya haram. Semoga setiap muslim paham dan peka terkait hal ini.
Selanjutnya, dengan niat saling menasehati, berikut empat nasehat agar gadget dipergunakan sebagai fasilitasi uzlah yang berkualitas.
Pertama, setiap muslim bebas menggunakan barang miliknya dengan siap bertanggung jawab atas akibatnya, baik di dunia ataupun akhirat. Sebagaimana diketahui, di dunia ada akibat yang berkaitan dengan pahala dan dosa. Selain itu ada juga kaitannya dengan timbulnya penyakit. Sementara di akhirat ada balasan yang sudah disiapkan, surga atau neraka.
Kedua, setiap muslim disilakan memeriksa pikirannya, seberapa jauh konten yang selama ini dilihatnya berpengaruh pada kehidupannya. Agar salah jalan masih bisa diantisipasi. Syukur jika jalan yang ditapaki sudah benar.
Ketiga, setiap muslim diberi pilihan untuk mendakwahkan kebaikan atau keburukan. Apabila pikirannya dipenuhi muatan tercela, maka kemungkinan seorang muslim akan mendakwahkan hal tercela. Sebaliknya, jika pikirannya dipenuhi muatan terpuji, maka dakwahnya akan berkisar pada hal terpuji.
Keempat, setiap muslim boleh merenungkan kedekatannya dengan Allah ta'ala. Sehingga kapanpun dan dimanapun selalu terasa pengawasan-Nya. Alhasil ada kendali diri yang kuat untuk tidak berbuat tercela.
Semoga dengan keempat nasehat tersebut, seorang muslim berhasil memiliki diri berkualitas lewat uzlah penuh kualitas bersama gadget-nya.
Wallah a'lam.


Post a Comment