Membangun Kebaikan dari Sebuah Pilihan Cinta

Ada dua jenis cinta, yakni cinta yang menahan dan cinta yang melepaskan. Cinta yang menahan membuat orang-orang untuk terus berdekatan secara jarak. Apabila terpaksa saling jauh, akan disusun cara agar orang-orang sering bertemu. Bahkan pertemuan dianggap sebagai bukti cinta.


Sebaliknya, cinta yang melepaskan cenderung memberikan kebebasan kepada orang-orang untuk berada di jarak berapapun. Jauh atau dekat itu tidak masalah. Karena cinta bukan tentang jarak dan bukan pula tentang pertemuan, tetapi lebih pada pertalian hati yang erat. 

Pertemuan memang satu wujud cinta namun bukan satu-satunya. Ada lagi wujud cinta lainnya semisal hadiah dan doa. Bahkan sekedar salam itu sudah mencukupi.

Tidak perlu mempertentangkan kedua jenis cinta ini. Bagaimanapun setiap insan boleh memilih jenis cinta mana untuknya. Yang penting setiap insan siap menanggung konsekuensinya.

Janganlah kemudian idealitas cinta diharapkan, semuanya sesuai keinginan pribadi. Padahal Allah ta'ala telah menguraikan dengan jelas dalam sejarah atau firman-Nya, cinta dan kenyataan duniawi lainnya diatur oleh sunnatullah. Bukan tidak mungkin idealitas digapai, tetapi sunnatullah menggores sejumlah konsekuensi duniawi atas sebuah pilihan insan. Konsekuensi-konsekuensi itu lebih sering sulit digapai oleh ikhtiar kebanyakan insan.

Kedewasaan dalam menjalin cinta menjadi sesuatu yang penting. Agar di alam nyata, cinta tidak menimbulkan derita. Sebaliknya, bahkan cinta melahirkan energi. Walaupun berjauhan, antarinsan saling terikat dan saling menguatkan dalam menjalani hidup. Sehingga hidup terasa lebih menentramkan.

Satu kata yang mungkin sangat bertalian dengan jalinan cinta adalah setia. Bahwa jalinan cinta melahirkan panduan tentang apa yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan di dalam jalinan cinta. Apabila panduan ini dilanggar, tentu jalinan cinta bisa rusak.

Kadang, dalam jalinan cinta, ada ketidakjelasan. Apa yang boleh dan tidak boleh itu tidak jelas. Dikarenakan sama-sama dewasa, semuanya dianggap telah jelas.

Padahal kejelasan itu perlu. Adat kebiasaan harian hanya satu referensi. Ada perihal lain yang sering ikut mewarnai jalinan cinta, katakanlah pemahaman agama. Perihal lain adalah tambahan wawasan seiring penambahan usia.

Sebagai kata akhir, semoga setiap insan menyadari pentingnya cinta. Maka ilmu tentangnya juga menjadi penting. Supaya perjalanan hidup selaras dengan sunnatullah atas cinta.

Bahwa cinta itu salah satu sumber energi hidup, memotivasi dan menggerakkan. Di sisi lain cinta juga menganyam jaring-jaring cemburu sebagai batas. Memahami dua sisi cinta semoga, sebagaimana telah disampaikan, menempatkan cinta selaras dengan garis perjalanan hidup.

Inilah cinta yang berkualitas.

Dari sini dapatlah dimengerti firman Allah ta'ala dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 165, "Dan orang-orang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah."

Orang-orang beriman mengerti perihal semua sisi tentang cinta serta berjalan konsisten di atasnya.

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close