Diskusi Bergengsi Tinggi, Bukan Asal-Asalan


Diskusi atau debat kadang menjengkelkan. Akhirnya tanpa sadar, hinaan personal ditujukan kepada lawan debat. Mungkin badannya yang dihina, tidak jarang keluarganya.

Saat seperti ini, diskusi atau debat sudah tidak sehat. Arahnya sudah melenceng dari maksud yang telah ditetapkan awal. Akibatnya bisa ditebak, orang-orang yang terlibat debat akan saling jengkel.

Oleh karena itu diskusi dan perbincangan sejenisnya butuh adab, di samping ilmu. Sehingga kesabaran serta toleransi senantiasa hadir. Tidak ada hinaan personal. Diskusi tetap fokus pada topiknya.

Problemnya kadang hinaan personal dianggap sebagai jagoan. Citranya heroik. Tak ayal banyak orang melakukannya.

Padahal dalam Islam, adab jauh lebih penting ketimbang menang-kalah diskusi. Justru terjaganya adab menjadi kemenangan tersendiri. "Biarlah orang menang di omongan, tapi kita harus menang di adab," demikian prinsip seorang muslim.

Hal ini dikarenakan adab itu cerminan keimanan dan kepatuhan pada syariah, sebagaimana tertulis di pembukaan kitab Adabul 'Alim Wal Muta'allim, "Barangsiapa tidak memiliki adab, maka seseorang tidak memiliki ketaatan pada syariah, iman, dan tauhid."

Adab ini berlaku di mana saja, di media apa saja. Di media sosial atau kehidupan nyata, seseorang menjaga adabnya. Mimik muka, bahasa tubuh, tulisan, bahkan emoji, semuanya dijaga. 

Apabila adab terjaga, seperti apapun diskusi, hubungan antarinsan tetap baik. Kebersihan serta ketenangan jiwa juga terjaga. Bukankah indah hidup seperti itu, sosial dan pribadi sama-sama baik?

Lebih jauh, lisan/tangan terjaga dari dosa. Ruhiyah relatif suci. Kasih sayang Allah ta'ala terus tercurah.

Memang kesan lemah sulit dihindari saat seseorang kalah diskusi. Akan tetapi semoga konsistensi berbuat baik jadi jalan untuk Allah ta'ala bukakan kebenaran. Saat itu terjadi semua orang bakal tahu kebenaran sesungguhnya.

Sekali lagi pengetahuan untuk diskusi itu penting. Adab juga penting. Begitu pula keterampilan mengatur emosi dan tutur kata tidak bisa disepelekan. Kesemuanya bekal yang perlu disiapkan menuju ajang diskusi, agar diskusi mengantarkan pada kematangan intelektual dan mental, bukan asal menang, apalagi sekedar asal-asalan.

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close