Saling Peduli dan Saling Jaga Antarinsan (Mengais Ibrah dari Musibah 27 April 2026)


Musibah di tanggal 27 April 2026 itu tidak bisa dihindarkan. Sejumlah korban berjatuhan. Sebagiannya wafat, sebagian lainnya terluka.

Pedihnya lagi semua korban wafat, sejauh ini, adalah perempuan. Hal ini dikarenakan gerbong KRL yang ditabrak adalah gerbong perempuan. Melihat gambar yang tersebar di media massa dan sosial, dahsyatnya tabrakan sungguh ngeri untuk dibayangkan.

Tentu doa terbaik dipanjatkan kepada semua korban. Sementara harapan terbaik disampaikan kepada pihak-pihak otoritatif agar ada peningkatan antisipasi. Adapun kepada seluruh masyarakat, hendaklah menahan lisan dan tangan. Hindarkan komentar yang memicu masalah berikutnya.

Ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari insiden ini. Bahwa satu masalah punya peluang menjadi sebab atas masalah lain. Sifatnya berantai. 

Sehubungan dengan itu, kiranya setiap orang memperhatikan dirinya sendiri untuk tidak menimbulkan masalah. Seremeh apapun masalah tersebut, dikhawatirkan orang lain terganggu bahkan mendapatkan masalah yang timbul setelahnya.

Apabila sudah berusaha sekuat mungkin mengantisipasi tapi masalah tetap muncul, hendaklah segera ada perbaikan. Agar masalah lain tidak muncul. Masalah bisa dilokalisir, tidak meluas.

Hendaklah disadari bahwa hidup ini tidak bisa sendiri. Ada orang lain juga. Saling mempengaruhi itu tidak bisa dihindarkan.

Berikutnya penting bagi setiap orang untuk peka saling mengingatkan. Jika ingin mengingatkan orang lain, lakukan saja, jangan ragu, asalkan dengan cara yang sebaik mungkin. Sedangkan pihak yang diingatkan, terbukalah untuk menerima teguran. Insya Allah seperti ini akan berakhir baik.

Memang tidak mudah untuk ingat-mengingatkan. Sikap individualis sudah merebak. Tak ada lagi keinginan untuk mengingatkan pihak, masa bodoh. Menipis juga baik sangka atas teguran, akhirnya direspon dengan negatif. Padahal teguran sering didasarkan kasih sayang.

Oleh karena itu kiranya sikap individualis dijauhi, diganti dengan peduli berbasis iman. Berbondong-bondong orang saling mengingatkan dan mengajak untuk hidup berkualitas di dunia, juga di akhirat. Bahkan gotong-royong juga ditumbuhsuburkan. Terbangunlah hidup aman serta nyaman bagi semua.


Semakin Besar Kekuasaan, Semakin Luas Akibat Kesalahan

Saat memiliki kekuasaan yang besar, seseorang hendaklah lebih berhati-hati. Karena saat berbuat salah, kemungkinan dampaknya luas. Tidak hanya pada dirinya tapi juga orang-orang yang berada pada kekuasaannya.

Dalam hal ini jiwa besar dibutuhkan. Koreksi dari berbagai pihak perlu dianggap sebagai ungkapan kasih sayang, bukan benci. Agar semua pihak selamat dari potensi bencana.

Apabila koreksi dianggap sebagai ungkapan kebencian, maka mulailah terbangun potensi kekerasan. Orang yang punya otoritas berpeluang menggunakan kekerasan untuk membungkam. Bencana bisa segera datang. Saat itu terjadi, semuanya sudah terlambat.

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close