Menerjemahkan Ulang Pesan Pemikiran Yang Ditinggalkan

Kehidupan seorang manusia di dunia ini tidak selamanya. Ada batas akhir yang telah ditetapkan, bernama kematian. Apabila tanda-tandanya terlihat, tinggallah ia bersiap. Selain syahadat, hendaklah pesan terakhir segera disampaikan.

Pesan tersebut, tentunya, diharapkan penuh manfaat. Selain itu, ada kemungkinan untuk melaksanakannya. Jika tidak demikian, masalah-masalah akan segera berdatangan.


Katakanlah pesan yang ditinggalkan itu bermanfaat dan mungkin dijalankan, maka berikutnya ada dua opsi bagi penerima pesan untuk mewujudkan pesan tersebut. Pertama, sang penerima pesan mewujudkan apa adanya. Kedua, sang penerima pesan mewujudkan sesuai dengan situasi dan kondisi kekinian.

Opsi pertama sangat mungkin jadi opsi terbaik. Akan tetapi dalam satu dua situasi dan kondisi, opsi pertama ternyata sulit dilakukan. Oleh karena itu kiranya perlu dibuka kesempatan bagi penerima pesan untuk mewujudkan dengan penyesuaian.

Sehubungan dengan hal demikian seorang penerima pesan harus betul-betul memahami isi pesan. Dalam hal ini ia harus bisa menjelaskan kepada orang lain tentang inti pesan. Ia juga mampu menyampaikan timbangan manfaat-mudharat jika pesan diwujudkan apa adanya. Terakhir ia mampu memberikan alternatif dalam mewujudkan pesan. Agar manfaat dirasakan, sedangkan mudharat diminimalkan.

Terjadilah proses menerjemahkan ulang pesan. Tingkat berpikir tinggi kadang diperlukan untuk melakukan proses tersebut. Sehingga sangat dianjurkan untuk diskusi dilakukan. Mungkin diskusi tidak cukup sekali, terutama untuk pesan yang rumit.

Salah satu pesan yang rumit adalah pesan yang bersifat pemikiran. Satu orang sangat mungkin tidak mampu menangkap sekaligus menerjemahkan sebuah pesan pemikiran dengan utuh. Bantuan wawasan dari kepala lain diperlukan.

Diskusi, sebagaimana telah disebutkan, itu satu jalan keluar utama. Apalagi jika menerjemahkan ulang pemikiran harus dilakukan. Sungguh, diskusi sangat sulit dihindarkan.

Dalam menerjemahkan ulang pesan pemikiran, sejumlah prinsip dibutuhkan. Usahakan agar prinsip-prinsip tersedia dalam proses penerjemahan ulang. Jika ada satu prinsip saja yang diabaikan, kemungkinan proses penerjemahan ulang berakhir gagal.

Akibatnya ketidakpuasan muncul. Konflik kemudian tersulut. Perpecahan sosial tinggal hitungan waktu.

Di sisi lain kemakluman pihak eksternal sangat diperlukan. Jangan sampai jika hasil penerjemahan ulang tidak memuaskan, hendaklah disikapi lapang dada. Bersikap frontal lebih baik dihindarkan. Bagaimanapun ikhtiar menerjemahkan ulang pesan sering tidak sesederhana yang terlihat.

Pihak eksternal yang dimaksud adalah siapapun yang tidak terlibat dalam proses penerjemahan ulang pesan pemikiran. Walaupun pihak eksternal ini memiliki hubungan dekat dengan sang pemberi pesan, hendaklah lapang didulukan ketimbang curiga. Jauh lebih baik nasehat diberikan dengan jernih. Siapa tahu nasehat tersebut memberikan pengaruh yang dahsyat.

Sungguh hidup ini penuh dengan pesan. Memberi dan menerima pesan hendaklah sama-sama disertai kemampuan berpikir. Agar pesan terwujud berupa kemanfaatan.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close