Inspirasi Islam dalam Mensejahterakan Perempuan (Catatan Hari Kartini Tahun 2026)


Manusia lahir dari perempuan. Sebagian besarnya diasuh dan dibesarkan pula oleh perempuan. Sungguh hutang manusia kepada perempuan sangatlah besar.

Perempuan juga peneguh lelaki. Saat lelaki telah memilih jalan, penguatan perempuan tidak bisa dianggap remeh. Jalan terasa lebih lapang sekaligus mantap untuk dijejak.

Oleh karena itu sebagian lelaki begitu menghormati perempuan. Tidaklah perempuan dijadikan sebagai objek saja, bahkan diantarkan untuk menjadi sosok penting di masyarakat. Hubungan yang dibangun antara keduanya relatif setara.

Salah satu lelaki itu adalah Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam. Beliau, sebagaimana tercatat dalam sejarah, telah berhasil membalik kedudukan perempuan di masyarakat. Perempuan jauh lebih mulia ketimbang sebelumnya.

Akan tetapi tetap saja terpaan fitnah menimpa beliau. Sebagian fitnah itu dibungkus dengan dalil aktivitas ilmiah. Anehnya meskipun semua fitnah tersebut telah dijawab, pengulangannya seolah tak berhenti. Seolah tak ada kata puas untuk merendahkan sosok Baginda yang mulia.

Bagi umat Islam, sebagaimana mayoritas di Indonesia, sosok Baginda telah berhasil mengangkat derajat perempuan secara utuh. Bukan hanya secara materil, tapi perempuan diantarkan menuju kesejahteraan batin. Sehingga kemungkinan bahagia di akhirat lebih terbuka lebar bagi perempuan.

Para feminis dan sekuleris mungkin mengabaikan sisi akhirat ini. Karena bagi mereka, akhirat itu berkaitan dengan agama. Sementara agama merupakan urusan privat manusia.

Islam tidak begitu. Manusia, lelaki dan perempuan, diatur secara utuh oleh Islam. Kehidupan pribadi dan sosialnya mendapat panduan dari Islam. Sehingga keteraturan yang terbangun pada manusia bersifat simultan dan komprehensif.

Dalam pandangan Islam, kebebasan mutlak bagi manusia itu tidak mungkin. Bagaimanapun manusia berhubungan dengan manusia lain. Ada batas-batas yang wajib diperhatikan, tentang hak dan juga kewajiban.

Terbukti, dalam kehidupan yang liberal, sudah lahir banyak masalah sosial. Kebingungan sekarang ini menyeruak. Semoga pada akhirnya tumbuh kesadaran untuk memilih Islam sebagai solusi.

Memang dalam praktik modern terjadi keberagaman seputar penghormatan kepada perempuan. Satu negara dengan negara lain bisa jadi berbeda. Akan tetapi bila ditelisik lebih jauh, tetap ditemukan satu ruh bahwa perempuan memiliki kemuliaan tersendiri.

Ke depan, dalam konteks Indonesia, harapannya lelaki dan perempuan memiliki semangat ta'awun yang lebih kuat dalam membangun bangsa. Salah satunya lewat membangun keluarga yang suportif. Sehingga setiap anggota keluarga bertumbuh sesuai minat serta ketersediaan kesempatan.

Hal ini dikarenakan keluarga merupakan batu pijakan kehidupan manusia. Jika keluarga baik, maka kehidupan manusia akan relatif baik. Sebaliknya, jika keluarga buruk, maka kehidupan manusia berpotensi hancur.

Apalagi di era ini, membangun keluarga membutuhkan usaha yang luar biasa besar. Semoga semua usaha yang telah dikerahkan mengundang ganjaran yang banyak dari Allah ta'ala. Terasa kasih sayang-Nya di dunia, juga akhirat.

Sebagaimana diketahui, bukan hanya faktor ekonomi yang memberatkan sepasang insan untuk membangun keluarga. Tekanan sosial juga tidak ringan. Faktor traumatik pun semakin beragam.

Oleh karena itu hendaklah antarkeluarga muslim saling menguatkan. Bahwa sukses satu keluarga ditopang dengan bantuan keluarga lain. Saling terhubung secara positif semoga terjadi.

Dengan demikian semoga lelaki dan perempuan mampu lebih menguatkan mindset kewajiban ketimbang hak. Kemampuan kontribusi senantiasa ditumbuhkan keduanya. Hingga kemudian tak lagi penting apa itu kesetaraan. Karena para lelaki memimpin dengan penuh bimbingan, sementara perempuan mengikuti dengan penuh kesadaran.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close