Tidak Sekedar Menuangkan Kata ke Kepala, Berbahasa itu Membangun Kekuatan Jiwa Orang Tercinta
Di sebuah webinar, moderator meminta tiga pembicara untuk membuat kalimat penutup. Tantangannya kalimat penutup tersebut hanya satu kalimat. Hasilnya seorang pembicara berhasil membuat satu kalimat majemuk dengan tiga anak kalimat. Seorang pembicara lain benar-benar menyampaikan satu kalimat. Pembicara terakhir benar-benar gagal, kalimatnya lebih dari satu.
Teringatlah cara bicara Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam, dikenal dengan jawamiul kalim. Secara ringkas jawamiul kalim dimaknai dengan "kalimat padat bermakna". Para pendengarnya mudah memahaminya sekaligus merasakan dampaknya. Sehingga mereka tergerak untuk berbuat sesuatu sebagai respon.
Paling tidak ada dua unsur efektif jawamiul kalim yang bisa disampaikan: Struktur kalimat dan diksi.
Struktur kalimat dalam jawamiul kalim memberikan kejelasan tentang bagian kalimat yang ingin ditekankan. Bisa jadi bagian kalimat itu ada subjek, predikat, atau objeknya. Sehingga kalimatnya berbentuk aktif di satu kesempatan dan pasif di kesempatan lain, tergantung unsur kalimat mana yang ingin ditekankan.
Demikian pula diksi, sifatnya menguatkan maksud. Hingga dampaknya tidak hanya pada kognitif tapi juga afektif. Sehingga sebuah rasa langsung terbit dari lubuk hati. Tidak lama sebuah tindakan terjadi sebagai respon.
Berkaca pada sejarah kehidupan Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam, ditemukan fase hidup beliau tinggal di pedesaan. Para ulama dan sejarawan menyampaikan salah satu hikmahnya yakni terbangunnya kefasihan berbahasa. Karena di pedesaan waktu itu tata krama berbahasa masih dipegang kuat.
Oleh karena itu sangat baik jika keluarga senantiasa menguatkan kebahasaan di keluarga. Menghindari kata-kata kotor itu prioritas pertama. Prioritas berikutnya adalah berbahasa dengan jelas.
Hal lain yang juga penting adalah mengapresiasi setiap ujaran yang jelas dan baik dari anak. Bagaimanapun seorang anak memerlukan ikhtiar yang kompleks dalam berbahasa. Semoga apresiasi yang diterimanya menguatkan semangatnya untuk senantiasa berbahasa dengan jelas dan baik.
Di sisi lain hendaklah anak tidak dipermalukan saat salah bicara, atau kurang jelas bicara. Akan tetapi berilah bimbingan kepadanya agar mampu menyampaikan maksud dengan baik. Sejumlah pertanyaan bisa dilontarkan sebagai pancingan.
Pada akhirnya kebenaran isi bicara harus dibahas. Karena apa guna terampil bicara saat dusta senantiasa menghiasi. Dalam hal ini sebuah ayat perlu diingatkan kembali, tepatnya ayat 9 dari Al-Qur'an surat An-Nisa, "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."
Kebenaran bicara mungkin pahit. Akan tetapi, sebagaimana inspirasi ayat tersebut, kebenaran bicara akan menguatkan. Mungkin butuh waktu tetapi kekuatan itu perlahan akan terbentuk.
Dengan kekuatan itu seorang anak, bahkan orang dewasa, akan dimudahkan Allah ta'ala menghadapi propaganda. Di lingkungan sehari-hari propaganda disampaikan agar terjadi kubu-kubuan. Ini satu potensi bullying. Sementara di lingkungan yang lebih besar seperti negara, propaganda disampaikan agar kebohongan dipercaya.
Orang yang kuat akan senantiasa memiliki sikap. Propaganda tidak langsung diiyakan tapi diteliti seksama. Sikap yang muncul jelas, tidak membela kelompok tapi nilai moral. Bila suatu kelompok benar nilai moralnya, maka didukung. Sebaliknya bila salah nilai moralnya, maka tidak akan didukung.
Berkata-kata mungkin terlihat sederhana. Akan tetapi kompleksitas ada di situ. Semoga jadi pelajaran bersama.
Wallah a'lam.


Post a Comment