Taujih Ramadhan: “Ramadhan Madrasah Jiwa dan Penaklukan Hawa Nafsu”


Oleh: 
KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I.

Segala puji bagi Allah yang mempertemukan kita dengan bulan penuh rahmat, ampunan, dan pendidikan jiwa. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan madrasah kehidupan: tempat kita diuji apakah mampu menundukkan hawa nafsu, atau justru ditundukkan olehnya.

Klik untuk Informasi Pendaftaran SMP Hidayatullah Kebumen

Hawa nafsu adalah dorongan dalam diri manusia. Jika dikendalikan dengan iman, ia menjadi energi kebaikan. Jika dibiarkan liar, ia menjerumuskan ke dalam maksiat. Karena itu, puasa hadir sebagai training center ruhani, tempat kita belajar mengendalikan diri.

Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa itu adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika seseorang memeranginya atau mencacinya, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Klik untuk Informasi Pendaftaran SDIT Al-Madinah Kebumen

Ikhtiar Mengendalikan Hawa Nafsu

1. Meluruskan Niat

Puasa bukan rutinitas tahunan, melainkan perjalanan ruhani. Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari kita luruskan niat: bukan sekadar ikut tradisi, tetapi sungguh-sungguh ingin mendekat kepada Allah.

2. Menjaga Panca Indera

Puasa mengajarkan kita menjaga mulut dari ghibah, mata dari pandangan maksiat, telinga dari mendengar keburukan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Puasa sejati bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan diri dari segala bentuk dosa.

3. Memperbanyak Ibadah dan Dzikir

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Allah SWT. berfirman:

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Mari kita isi dengan tilawah, tadabbur, dan dzikir. Hati yang sibuk mengingat Allah akan lebih mudah menundukkan hawa nafsu.

4. Mengatur Pola Makan

Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi).

Berbukalah dengan sederhana, sahur dengan bergizi. Nafsu perut yang terkendali akan memudahkan kita mengendalikan nafsu lainnya.

5. Meningkatkan Kepedulian Sosial

Puasa menumbuhkan empati. Allah berfirman:

Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Rasulullah ﷺ bersabda:

Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam Musannaf Ibn Abi Shaybah disebutkan bahwa Abdullah bin Umar r.a. sering berbuka bersama anak yatim dan fakir miskin. Beliau tidak merasa tenang berbuka sendirian, karena kebahagiaan sejati adalah berbagi.

6. Menghindari Lingkungan Negatif

Lingkungan memengaruhi hati. Ibnul Qayyim dalam Ad-Daa’ wa ad-Dawaa ’  menjelaskan bahwa maksiat adalah racun yang melemahkan hati, menghalangi ilmu, dan menutup pintu rezeki. Karena itu, menjauhi lingkungan penuh maksiat adalah bagian dari menjaga kesucian puasa.

Ulama besar generasi salafus shalih Syekh Hasan Al-Bashri dalam Hilyatul Awliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani menasihati muridnya: “Jangan berteman dengan orang yang lalai mengingat Allah, karena engkau akan tertular kelalaiannya. Bertemanlah dengan orang yang selalu mengingat Allah, karena ia akan mengingatkanmu ketika engkau lupa.”

Ramadhan sebagai Momentum Perubahan

Ramadhan mendidik kita agar hawa nafsu tunduk pada akal dan hati nurani. Jika kita berhasil menahan nafsu, kita akan meraih derajat takwa.

Bayangkan, jika kita mampu menahan diri dari makanan halal di siang hari, mengapa tidak mampu menahan diri dari yang haram sepanjang tahun? Jika kita bisa bangun malam untuk tarawih, mengapa tidak melanjutkan qiyamul lail setelah Ramadhan? Jika kita bisa berbagi di bulan ini, mengapa tidak menjadikannya kebiasaan sepanjang hidup?

Ramadhan adalah madrasah. Ia melatih kita disiplin, sabar, ikhlas, dan peduli. Rasulullah ﷺ bersabda:

Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah hakikat puasa: melatih kekuatan jiwa. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengendalikan hawa nafsu, sehingga keluar dari Ramadhan dengan hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan iman yang kokoh.

Alfaqir, KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I  Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen. Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen

Powered by Blogger.
close